Avenu Shalom Alaechim! Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman.**** Yeh. 1:28 Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,Yer 9:23.

02 Februari 2014

GKJ PGRN: Gereja yang Berperan Serius dalam Menanam & Menyemai Anak-anak Sekolah Minggu-nya

GKJ PGRN:
Gereja yang Berperan Serius
dalam Menanam & Menyemai Anak-anak Sekolah Minggu-nya

Sebuah Liputan Kesaksian Pdt. Angrh.



Minggu 26 Januari 2014 pagi pukul 06.30 WIB, kami warga GKJ Tanti wilayah Kl dan beserta pemuda-pemudi GKJ Tanti berkumpul bersama di rumah penatua majelis yaitu Ibu Sri, untuk bersiap berangkat ke Smn, Gunungkidul mengendarai bus wisata.
Meskipun bus tidak terlalu penuh terisi penumpang, namun kami berangkat dengan sukacita. Rute perjalanan ke Smn Gunungkidul yang semula akan mengambil jalur melewati Klaten berubah menjadi rute melewati Jl. Raya Wonosari. Melewati jalan yang katanya akan penuh dengan pemandangan yang indah. Di dalam perjalanan yang berliku dan naik-turun sempat teman kami ada yang mabuk, dan pusing. Tapi untung ibu Arif begitu perhatian dengan membawa obat-obatan seperti antimo dan minyak kayu putih. Juga ibu Arif dan ibu Podang begitu perhatian melayani, membagikan makanan dan minuman kepada para penumpang.
Akhirnya sampailah kami ke tujuan, yaitu GKJ Pgrn. Tampak kami lihat sebelum turun, ada sebuah gereja yang elok, megah, bergaya arsitektur Eropa bertengger diatas perbukitan batu yang kokoh. Tampak asri dan hijau. Kami pun turun dan harus berjalan menaik untuk mencapai GKJ Pgrn.
Tak lama ibadahpun dimulai. Kami memuji Tuhan, mendengarkan firman dan beramah tamah di gereja. Saya sempat kagum kepada bapak pendeta. Beliau menyebutkan dalam doanya, diantaranya “persembahan pujian”. Sangat menyentuh, karena warga GKJ Tanti yaitu dik Shasa dan juga koor Gema Khalista juga mengisi persembahan pujian di GKJ Pgrn.

Sampai kepada acara ramah-tamah, dari GKJ Tanti wilayah Kalasan menyampaikan kata-kata sambutannya. Diantaranya Bpk. Elisa sebagai penggagas acara, dan Ibu Sri sebagai majelis wilayah. Dilanjutkan sambutan dari majelis GKJ Pgrn dan bapak Pdt. Angrh. Dan tak lupa dari ibu Sri menyampaikan sesuatu dan oleh-oleh bingkisan kepada GKJ Pgrn.
Selanjutnya acara dilanjutkan ramah-tamah dan temu hangat di kediaman bapak Elisa semasa kecil. Dengan berjalan kaki, kami semua masuk ke sebuah rumah bangunan joglo kayu bernuansa asli pedesaan. Kami disuguhi, jajanan dan makanan tradisional diantaranya: gathot dan tiwul, kacang rebus, pisang rebus, dan buah-buahan hasil tani. Kemudian disambung makan siang dan cerita kesaksian oleh bapak Pdt. Angrh Tentang seluk beluk pelayanannya di GKJ Pgrn.
Pdt. Angrh adalah sosok pendeta yang masih muda dan bersemangat. Dari nada suaranya yang keras menggambarkan bahwa pesan yang ingin disampaikan itu sungguh-sungguh ingin dibagikan untuk semua orang. Sampai kami beberapa pemuda yang duduk di belakang pun sangat jelas mendengar suara bapak pendeta Anugrah. Gaya bicara itu juga Nampak ketika beliau menyampaikan Firman sewaktu di gereja. Beliau juga sosok pendeta yang melayani di sebuah desa yang begitu jauh dari hiruk pikuk kota namun tetap mempunyai dan membagikan wawasan dan cara pandang yang maju. Kehangatan dan keramahtamahan beliau juga tercermin bagaimana, beliau menyambut jemaat tamu dan semangatnya untuk membagikan kesaksian pelayanannya. Ditengah pelayanan jemaat di GKJ Pgrn yang rata-rata berusia lanjut, namun pembawaanya tetap muda, energik, dan lebih bebas namun sopan.
Sangatlah menarik kalau kami sebagai orang kota, sesekali belajar ke desa. Untuk itu simak liputan, kontribusi jurnalis SolaAgape yang sempat kami rekam dari penuturan bapak Pdt Angrh berikut ini.
Pdt Angrh adalah seorang pendatang di Smn Gunungkidul. Beliau berasal dari dari Sukoharjo. Bila dihitung perjalanan maka ditempuh setengah jam dengan sepeda motor dari Smn menuju ke daerah kelahirannya. “Saya ada disini sejak tahun 2003, masih bujang. Diboyong di sini bulan November 2003 dan ditahbiskan Oktober 2004. Jadi ini tahun ke-10 saya melayani. Dalam kacamata saya di sini, gereja ini unik dan menarik sebagai orang yang datang kemudian.”
Apa keunikan GKJ Pgrn?

1. Tuhan itu memakai anak-anak menjadi alat untuk menumbuhkan iman dan menyampaikan keselamatan bagi umat di sini.

Kenapa anak-anak? Karena dari sejarahnya, Kekristenan atau Injil muncul dan menarik perhatian masyarakat di sini. Berawal dari peristiwa seorang anak bernama Mardi, anak Mbah Notodikromo.  Seorang anak ini sakit ketika menggembalakan ternak. Lalu sakit itu sampai tiga hari tidak tertolong (tidak sembuh) meskipun sudah di bawa kemana-mana, dicarikan dukun ke mana-mana, tidak sembuh-sembuh. Sampai pada suatu hari orang tuanya mendengar ada seorang dukun di daerah Wuryantoro Wonogiri terkenal dengan nama Mbah Lurah Betek. Yang kemudian mengobati anak ini dan menjadi sembuh.

Aturan Jawa yang mencengkeram lebih kuat dibandingkan Hukum Taurat

Kesembuhan seorang anak ini lalu menjadi titik tolak orang-orang di sini untuk mencari tahu. Apa sih yang bisa membuat anak ini bisa menjadi sembuh? Lalu Mbah Lurah Betek ini bercerita, ”Kalau orang seperti aku ini, tidak lagi dikuasai oleh ujar. Hidupnya tidak lagi dikuasai oleh ujar, dan menjadi orang yang merdeka”. Nah lalu pernyataan itu menjadi menarik lagi. Kenapa? Karena menurut beliau orang Jawa itu selalu dicengkeram, dengan lebih berat daripada angger-angger Taurat.

Orang Jawa itu selalu dicengkeram,
dengan lebih berat daripada
Angger-angger Taurat.

Contohnya mau cari isteri, pergi ke utara dan barat  tidak boleh, satu, tiga tidak boleh dan lain sebagainya, orang Jawa itu selalu dikuasai dan di cengkeram. Lalu Mbah Lurah Betek mengatakan, “kalau menjadi seperti saya itu, akan terbebas dari semua hal, menjadi orang yang merdeka dan bersyukur”. Karena itu menjadi semakin menarik, ketika tertarik kemudian belajar apa itu kekristenan dari mbah lurah Betek. Kemudian dihimpunlah kelas Katekisasi, istilah sekarang. Mengikuti pelajaran agama, lalu dimulai tiga keluarga, bertambah banyak dan semakin bertambah banyak. Bermula dari seorang anak lalu gereja ini bertumbuh. Itu sejarah  Injil kemudian dikenal di sini.

Bermula dari seorang anak
lalu gereja ini bertumbuh.




Injil berkembang & bertumbuh melalui seorang anak-anak

Lalu bagaimana Injil bertumbuh menjadi semakin besar. Juga melalui seorang anak. Karena ketika saya mencermati peristiwa demi peristiwa, perjalanan dari perjalanan ke perjalanan. Ternyata anak-anak dipakai Tuhan menjadi alat yang luar biasa! Saya banyak mendengar kesaksian dari jemaat di sini, bahwa mereka itu mengenal Kristen semula anaknya dulu. Jadi dulu sekolah minggu itu menjadi pertemuan yang sangat menarik bagi anak-anak di sini. Dan dari situ kita  bisa membayangkan. Bahwa dulu memang nggak ada acara yang bagus-bagus, sinetron belum ada, tendangan si Madun belum tayang sehingga acara sekolah minggu (SM) menjadi sangat menarik. Tidak hanya anak-anaknya orang Kristen tetapi juga anak-anak yang lain ikut kegiatan sekolah minggu. Nah ketika prosesnya berjalan, mereka ikut saja sampai kemudian mereka setelah sekolah minggu, katekisasi, dan akhirnya sidhi, dan baptis. Setelah anak-anak menjadi Kristen kemudian mengajak orang tuanya untuk menjadi Kristen. Nah, Injil berkembang dan bertumbuh melalui seorang anak-anak. Selain memang ada anak-anaknya orang Kristen yang semula belajar dari Mbah Lurah Betek tadi. Anak-anak menjadi bertumbuh dan berkembang.

2. Alat musik pek-bung sebagai alat pekabaran Injil.

Perkembangan Injil menjadi semakin menarik karena ada alat yang unik ditempat ini. Namaknya Pek-bung. Pek-bung itu suatu perangkat alat musik yang diciptakan oleh salah satu warga di sini namanya pak Pranoto Siswoyo, yang  menjadi majelis pertama di sini. menciptakan rangkaian alat musik dari bambu, dua batang, dua bumbung, di dalamnya ada bambu kecil untuk bas, ditiup-tiup, kemudian ada klenting yang diubah menjadi gendang, seruling, lalu ada kentongan. Dan alat itu musik itu masih dilestarikan sampai sekarang.

Jemaat tamu tadi memang tidak disuguhkan. Tapi even-even besar seperti Natal atau apapun selalu ditampilkan dan masih ada sampai sekarang. Hal itu menjadi menarik bagi masyarakat karena pada waktu itu kesenian akhirnya itu menjadi sesuatu yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada masayarakat. Dan di sini terkenal juga dengan daerah ledhek. Di sebelah timur desa ada kebudayaan ledhek. Memang masyarakat disini akrab dengan kegiatan-kegiatan seni, yang kemudian menjadi suatu alat kesaksian yang menarik bagi masyarakat, yang selalu ditampilkan.

Awal mula namanya pek-bung begitu karena suaranya memang pek dan bung. Sekarang terkenal dengan nama ben kesot. Karena memang permainannya dengan duduk atau kesot. Dengan itu menjadikan pertumbuhan pekabaran Injil menjadi semakin berkembang, dan anak-anak kembali mendapatkan peran yang istimewa dari Tuhan.

3. Keunikan masyarakat desa pegunungan

Keunikan berikutnya bagi jemaat di sini adalah, ketika kami ada di tengah-tengah masyarakat desa pegunungan yang secara geografis tidak menjanjikan untuk masa depan kehidupan. Maka banyak orang meninggalkan tempat ini, pak Soetiyanto salah satunya. Dia lihat tidak ada harapan di sini, kemudian merantau ikut orang dan seterusnya seperti itu tipikalnya. Sekolah SD lalu ikut orang, ngenger, ikut orang lain, disekolahkan lalu bekerja, dst.

Jadi situasi sosial, urbanisasi, itu menjadi konteks sosial kami, sehingga rata-rata yang ditempat kami sudah sangat sepuh. Yang potensial yang masih kuat, masih roso banyak yang merantau. Jadi dari kecilm ikut SM, lalu kemudian sudah SMA sidhi, lalu mereka pergi. Jadi majelis di Kalasan jadi majelis di Jakarta, jadi majelis dimana gitu, mengajar SM di sana. Demikian yang terjadi fenomenanya. Mereka mengenal Injil di sini dipelihara, kemudian mereka berbuah di tempat lain. Dan buat saya itu unik.

Kadang-kadang ketika awal mula pelayanan saya sering kali mucul dalam saya, “sesuk gerejane soyo kebak opo soyo entek”. Pikiran saya waktu itu begitu. Kenapa? Karena yang tinggal ya hanya orang-orang tua, nanti kalau sudah pensiun pulang, dan sudah tua. Dan ketika potensial  mereka ada di tempat lain. sempat berpikir seperti itu bahwa “gereja ini akan makin penuh atau makin kosong?”. Pergumulan saya pada waktu di awal-awal pelayanan saya. Karena melihat gedung gerejanya sebesar itu jemaatnya hanya di tengah itupun sudah sepuh-sepuh. Dahulu sebelum ada sekolah minggu, gedung SM di belakang. SM jamnya berbeda, lalu kemudian di sebelahnya anak-anak sedang bermain bola ketika bapak-ibunya kebaktian. Karena saking luasnya gedungnya. Jemaat di induk ini berjumlah XX6 orang, terdiri X1 anak-anak, dan sisanya orang-orang dewasa. Jumlah seluruhnya untuk GKJ Pgrn adalah XX5 orang dengan pepantahan. Gereja kami memiliki satu induk dan lima pepantahan, XX5 orang seluruhnya (yang tercatat). Yang tinggal kira-kira separuh, yang separuh ada di perantauan.

Namun ketika kami bergumul dengan kondisi sesuatu yang seperti itu ada suatu pernyataan yg sangat menarik lalu tertanam di hati saya. Kemudian saya mengajak untuk dihayati oleh semua orang di sini bahwa ternyata menurut kami itulah peran yang Tuhan minta untuk kami. Peran yang Tuhan berikan adalah menanamkan benih iman dan menyemainya.
  

“Peran yang Tuhan berikan adalah
menanamkan benih iman dan menyemainya”.

 Ketika saatnya mereka harus pindah tempat, pindah ketempat lain bertumbuh dan berbuah, itu merupakan urusan Tuhan. Jadi kami menghayati di sini bahwa kami adalah gereja penyemaian. Itu peran istimewa yang diberikan Tuhan kepada kami. Sehingga kami harus menaman benih dan menyemainya sampai saatnya nanti mereka siap, misalnya harus pindah tempat. Dan biarkan mereka bertumbuh di sana, berbuah di sana, terserah buahnya yang merasakan orang lain. Ya itu karya Tuhan, tidak perlu khawatir kepada kami.  Jadi itu peran yang begitu istimewa. Nah keunikan ini mulai bertumbuh dari anak-anak berkembang juga melalui anak-anak. Dan sekarang peran istimewa yang Tuhan berikan melalui anak-anak itu, yang kemudian membuat kami harus fokus dan serius. Anak-anak harus dikelola dengan memberikan perhatian yang ekstra. Oleh karena itu SM di sini tidak hanya dilakukan hanya hari minggu saja. Tapi tiga kali dalam seminggu. Pada hari Kamis, Sabtu, dan Minggu. Kami mengelola anak-anak tiga kali dalam seminggu dengan harapan, benihnya ditanam dengan sangat baik,  disemai dengan sangat baik, dan saatnya bertumbuh, mereka akan bertumbuh menjadi tumbuhan yang kuat, kokoh dan berbuah lebat.


Nah oleh karena itu kami memberikan, dan berjuang untuk menyediakan fasilitas pelayanan SM yang sangat baik. Oleh karena itu kami memimpikan gedung  sekolah minggu yang dibelakang. Itu belum lama kami miliki Pada saat kami memimpikan kami belum punya apa-apa, hanya berdoa, “Tuhan kami ingin punya gedung SM supaya anak-anak tidak lagi  terggangu juga dengan kegiatan orang tua. Supaya anak-anak  seringkali tidak terusir dengan kegiatan-kegiatan orang tua”. “Bukankah yang sering terjadi seperti itu tho?” “Kalau kegiatannya bersmaan maka anak-anaknya di suruh minggir. Ini mau dipakai sama bapak-bapak dan ibu-ibu. Guru SM lalu merasakan sakit hati.

Nah oleh karena itu memang kami berdoa kepada Tuhan suatu saat kami ingin tempat untuk SM yang lalu kemudian tidak menimbulkan gangguan untuk semua orang. Lalu kemudian kami berdoa. Dan suatu saat ada mahasiswa dari Universitas Kristen Maranatha datang ke sini dan ingin tinggal di sini selama seminggu. Kemudian kami terima dan kami sambut dengan sukacita dan kemudian mereka belajar menanam mereka belajar bertani selama seminggu, mengenal apa yang dilakukan para petani. Nah ketika mereka pulang mereka bertanya, ”Pak kami ingin berbuat sesuatu apa, yang bias kami lakukan?”. Lalu saya bilang saya ingin punya gedung SM. Lalu kemudian mereka memberikan sejumlah uang yang menurut kami jauh dari cukup, waktu itu kami diberi uang sepuluh juta. Lalu saya bilang, “Kita mulai sekarang!”. Banyak orang bingung 10 juta mau buat apa? Lalu kemudian setelah dimulai, kita mulai sekarang dengan uang 10 juta. 10 juta itu yang 9,5 jt berikan kepada saya. Yang 500 nggak tau nanti mau buat apa?
Tapi kami mulai. Nah, ketika sedang mulai berjalan lalu kemudian jemaat mulai terlibat. Memberi peran serta pertisipasi lalu kemudian bisa berdiri bangunan yang belum sempurna. Kemudian setelah itu, ketemu dengan orang yang mengatakan gereja mana yang lagi membangun? Lalu kemudian saya katakan, kami tidak sedang membangun gereja tapi apa yang kami lakukan itu dibutuhkan oleh gereja. Terutama gereja-gereja di kota. Karena kami sedang ingin mempunyai tempat untuk mengelola anak-anak SM dengan sangat serius.

Kemudian mereka mau terlibat luar biasa bahkan bukan hanya gedungnya, kami sekarang punya perpustakaan untuk anak-anak. Kami punya perlengkapan multimedia yang sangat bagus menurut kami sangat bagus. Kami punya perlengkapan sound system yang lebih bagus dari yang dimiliki oleh orang-orang dewasa di tempat ini. Nah kalau tadi diberi oleh-oleh, kayaknya sih buku, walaupun masih dibungkus tapi kayaknya sih buku. Itu menjadi sangat berharga buat kami.  Karena dengan perpustakaan yang sudah kami miliki ditambah lagi, itu akan membuat minat baca anak-anak bertambah. Sekarang ini perpustakaannya bergulir menjadi lumayan bagus. Kami ikut lomba perpustakaan se-kabupaten Gunung Kidul dan mendapatkan juara tiga. Itu menjadi sesuatu yang kami perhatikan dengan sangat serius karena peran kami sebagai gereja yang memang dikehendaki Tuhan. dari perjalanan itu, kami lalu mendapat kesimpulan bahwa gereja ini memang dikehendaki Tuhan untuk menanamkan benih dan menyemai.

Kisah pembangunan gedung GKJ Pgrn

Tentang gedung GKJ Pugeran yang ada di depan, Pdt. Angrh menuturkan bahwa saat ia datang di sana, besarnya sudah seperti itu. “Saya hanya mendengar cerita saja, bahwa dahulu gedung gereja tersebut terbuat dari gedeg (anyaman bambu) yang atapnya bocor. Kemudian jemaat ingin membangunnya dan dibuatlah proposal dengan anggaran Rp 29 juta. Dan salah satu proposal itu dikirimkan kepada Bapak Prawiro.” “Lalu kesaksian yang saya dengar yaitu, “Berapa jumlah jemaatnya?”. Jawab: “X00 orang.” “Kalau begitu buat bangunan yang cukup untuk menampung X00 orang.” Permintaan proposal yaitu Rp 29 juta, namun yang diberikan Rp X00 juta. Tetapi dengan tuntutan yang Rp X00 juta harus berasal dari jemaat, karena gambarnya saja nilainya Rp X00 juta!”



Nah, warga pun bingung, “Ini Rp X00 juta dari mana bisa didapatkan kalau kami semua bermata pencaharian sebagai petani?” Kemudian mereka menilai ongkos Rp X00 juta itu untuk ongkos pengerjaannya. Warga mengerjakan pembangunan dengan kerjabakti selama 2 tahun. Dua tahun dikerjakan, para ibu memasak untuk mengirim makanan ke gereja, dan para bapak mengerjakan selama 2 tahun. Dan kita anggap itu Rp X00 juta.

Demikianlah hal-hal besar yang terjadi di tempat ini. Dari kacamata saya sebagai seorang Pendeta yang datang kemudian. Ada banyak karya Allah yang megah. Jadi kalau seringkali ada orang yang datang dan mengatakan “Wah gedungnya megah ya?” Itu bukan kemegahan kami, itu adalah kemegahan karya Tuhan, pekerjaan Tuhan yang membuat semua itu bisa terjadi. Karena kami tidak pernah membayangkan memiliki gedung seperti itu. Yang kami bayangkan Rp 29 juta. Yang datang Rp X00 juta. Yang dibayangkan hanya kesembuhan seorang anak bernama Mardi, tetapi ternyata mendatangkan keselamatan bagi banyak orang. Itulah yang membuat saya secara pribadi belajar iman dari jemaat ini. Ketika saya datang, saya bertanya, “Apa yang menjadi penghidupan jemaat di sini?” Ketika saya mendengar ceritanya lalu saya bertanya, “Bagaimana mereka bias hidup?” Karena dalam perhitungan matematika saya nggak masuk akal. Dengan pertanian yang mereka kerjakan dan kehiduan yang harus mereka jalani dengan kebutuhan di zaman ini, nggak masuk akal.

Lalu pertanyaan saya mengapa mereka bisa hidup? Dan sampai sekarang? Saya belajar beriman dari mereka, saya belajar ilmu teologi di kampus tapi saya belajar beriman di tempat ini. Bagaimana jemaat ini terus menjalani kehidupannya dan bertumbuh dengan segala kebutuhan yang harus  dilakukan. Gedung gereja ini adalah gedung gereja paling besar se-Gunung Kidul. Dan itu tidak pernah dibayangkan oleh jemaat ini. SM kami gedungnya paling megah, paling lengkap, paling mewah, se-Gunung Kidul. Hal itu tidak pernah kami bayangkan. Itu adalah kemegahan karya Tuhan. Dari situlah kami belajar beriman, kami belajar bagaimana kasih Allah itu memelihara. Dan itu yang membuat kami tidak perlu lagi khawatir ketika melihat keadaan orang-orang tua.
Ketika anak-anak mereka di sini, kemudian setelah dewasa pergi. Karena ketika mereka pergi ternyata mereka berbuah ditempat lain,namun mereka juga tidak melupakan. Ada paguyuban Diaspora yang terbentuk dari komunitas orang-orang perantauan di tempat ini. Setiap 5 tahun sekali mereka pulang bersama-sama untuk merayakan Natal bersama jemaat. Di tempat-tempat mereka merantau ada persekutuan yang dibangun. Kalau saya pengen seperti temen-teman dari gereja Kharismatik mungkin disana sudah saya dirikan pepanthan di Jakarta. Karena jumlahnya lebih dari pepanthan. Layak kemudian untuk disebut pepantan. Di tempat lain juga nah tetapi mereka tetap bersekutu, mereka. Dan itu sungguh membuat saya sebagai pendatang, orang yang baru kemudian hari dating, kagum. Dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka tetap ada namanya di Jakarta Perdaksen Persekutuan pemuda Kristen Smn Ngawen. Mereka bersekutu mereka terus PAnya mereka kerjakan terus menjadi jemaat GKJ Nehemia menjadi jemaat GKI mana. Tapi mereka PA jemaat Pgrn di tempat-tempat perantauan. Mereka pulang setiap kali. Kalau panjenengan tadi lihat alat musik band yang begitu lengkap. Yaitu salah satu buah dari apa yang mereka kerjakan. Mereka pulang dan mereka berbuat sesuatu untuk jemaat di sisni jadi kami tidak merasa sia-sia ketika kami harus menanam benih dan kemudian menyemainya. Suatu saat mereka bisa berbuah bagi orang lain dan saatnya nanti mereka pasti ingat kok sama kita.

Paling tidak seperti apa yang dilakukan pak Elisa hari ini. Mereka bawa teman-temannya pulang untuk melihat. Itu adalah buah yang tidak pernah terpikirkan. Karena yang biasanya buah itu yang menikmati orang lain kan?! Namanya buah pisang itu yang menikmati saya dan penjenangan kan?! Pohon pisanngya kan nggak makan? betul nggak?! Tapi meskipun nggak makan mereka dipelihara sama yang makan. Itulah yang kemudian kami pikirkan meskipun mereka nanti berbuahnya di sana. Ada yang menjadi guru SM di suatu GKJ dimana? menjadi majelisnya dimana?  Pasti mereka akan juga pasti mereka akan berbuat sesuatu untuk kita. Itu yang menurut saya membuat kehiduapan ini menjadi seimbang dan itu yang membuat kita manjadi nyaman. Ketika kita menghayati kehidupan ini nggak seimbang kok kita memberi terus mengirim orang terus ke kota. Kapan kita dapatnya itu kita merasa nggak seimbang nanti nggak damai sejahtera dan nggak bahagia tapi ketika kita menganggap hidup ini seimbang kok saatnya kita member nanti, saatnya kita juga akan meneria mungkin bentuknya nggak sama tetapi. Itulah keseimbangan yang Tuhan nyatakan kepada kita sehingga prinsip yang baik menurut saya adalah:

·         bekerja yang keras,
·         berpelayanan yang keras,
·         berpersembahan yang banyak,
·         hasilnya nanti adalah urusan Tuhan. 
     Itu yang saya sampaikan kepada jemaat.

Berpelayanan yang keras, berpelayanan yang bersungguh-sungguh, bekerja dengan sungguh-sungguh, persembahan yang sungguh-sungguh. Hidup kita itu urusan Tuhan. Nah itu yang harus dipikirkan juga. Menurut saya. Pokoknya menyemai dengan sungguh-sungguh. Membuat dia imannya bertumbuh dengan sungguh-sungguh buahnya nah itu nanti urusan Tuhan. Kita terima buah seperti apa dan pasti Tuhan lebih bijak untuk memberikannya. Nah itu situasi gambaran yang bisa saya sampaikan. Kalau telalu  lama nanti saya kalah pamor sama nasi. Meskipun kelihatan mangguk-mangguk tapi sesekali melirik. Yaitu kira-kira apakah mungkin ada pertanyaan? Saya buka saja. Satu termin saja semoga nggak lama dan kalah pamor dengan makanan. Mari kalau ada yang mau bertanya memperjelas apa yang saya sampaikan dengan GKJ Pgrn.

Berikut sebuah pertanyakan oleh seorang guru SM bernama Nopi. “Saya mau tanya tentang kegiatan SM di sini? Tadi dikatakan seminggu itu ada kegiatan selama 3 kali. Apakah bias dijelaskan kegiatannya apa saja? Biar nanti bisa kami tiru.

Lalu Pdt. Angrh menjawab, “pada hari Kamis malam pukul setengah tujuh diadakan acara sepeti PA orang dewasa dengan berpindah-pindah tempat. Lalu kemudian hari Sabtu itu kami sebut sebagai Sanggar, kami bekerjasama dengan Yayasan Gloria. Untuk kemudian mengelola SM di hari Sabtu ini secara bersama-sama. Nah dari kegiatan SM ini kami berharap dapat mengarah kepada sisi sosial mereka. Mengunjungi  temannya, kemudian berbagi dengan teman-temannya. Hal itu menyentuh sisi social, supaya mereka dalam kegiatan sosial bertumbuh. Kegiatan hari Sabtu itu lebih kepada karakter. Jadi dengan kegiatan-kegiatan yang tidak baca Alkitab, mengajak anak-anak kemudian membangun karakter mandiri.

Tujuannya supaya karakter Kristen itu tertanam dalam mereka dan  tidak perlu dengan membaca ALkitab. Hari Sabtu ini membuat orang yang tidak Kristen, anak-anak nya tidak Kristen, satu atau dua orang ada yang terlibat. Ketika mereka tahu bahwa kegiatannya tidak membaca Alkitab maka mereka mau masuk. Meskipun tidak membaca Alkitab, tetapi karakter yang mau ditanamkan adalah karakter Kristus.

Kemudian pada hari Minggu lebih pada penyampaian Firman. Hal ini lebih menyentuh pada sisi iman spiritual. Karakternya mau dibangun dan sisi sosialnya dibangun, dan sisi spiritualnya pun juga dibangun, sehingga anak-anak nanti diharapkan berpijak pada tiga kaki itu dengan baik.

Sementara Indra wakil dari Komisi Pemuda GKJ Tanti melontarkan pertanyaan mengenai kehidupan pemuda dalam bergereja. Apakah teman-teman pemuda di GKJ Pgrn eperti anak-anak yang memiliki program 3 kali dalam satu minggu juga ataun atau bagmana?

Pdt. Angrh pun menjawab, “pemuda kondisinya sedang  ada dalam pergumulan. Pergumulan yang sangat serius. Mengapa? karena sisi kontekstual kami adalah daerah perbatasan yang sangat berpengaruh. GKJ Pgrn berbatasan dengan Wonogiri. Kami berbartasan dengan Sukoharjo, berbatasan dengan Klaten. Berada di pojok utara dengan konteks sosial yang seperti ini menjadi sangat istimewa bagi kami, karena  pengaruh itu menjadi sangat kuat.

Pada masanya dulu gereja ini pernah merasakan peran pemuda yang sangat luar biasa pendewasaan ini gereja ini adalah buah dari pelayanan pemuda.  Pada sekitar tahun 1980-an di sini peran pemuda menjadi sangat luar biasa. Orang-orang yang sekarang menjadi majelis seperti pak Heri itu adalah seorang pemuda pada zamannya dan berpelayanan berjemaat di gereja ini. Tidak pernah membayangkan kalau kemudian pemuda itu juga berperan sangat istimewa sehingga peran pemuda menjadi sangat sentral, tetapi memang saat ini kami sedang bergumul dengan kondisi pemuda dengan konteks sosial yang seperti itu dan zaman yang semakin maju dan modern seringkali membuat pemuda-pemuda ini menjadi bergumul dengan sangat karena kegiatan yang sekarang ada, sangat standard.

Berbeda dengan sekolah minggu, kegiatan pemuda sangat sederhana. Bible atau PA tiap malam minggu, persekutuan gabungan tiap bulan sekali lalu kemudian kebaktian remaja jam 7 pagi, itu yang rutin selain itu ada kegiatan-kegiatan yang monumental seperti Natal. Kemudian siap dengan Natal, Paskah, namun belum ada sesuatu yang membuat kami merasa istimewa. Situasinya memang seperti itu, tapi memang saya maklumi. Pemuda yang sungguh-sungguh tidak ada. Yang ada adalah remaja SMA ke bawah yang emosinya sedang bergumul dengan masa pubernya, konteks sosialnya, nah yang benar-benar pemuda nggak ada. Jika ditanya pemudanya ada berapa pak? Nggak ada! Yang ada remaja. Karena seperti yang saya katakana, yang lulus SMA mereka lalu pergi. Di sana ditampung bersama saudara-saudaranya kemudian mereka bertumbuh.


Menutup termin tanya jawab, Pdt. Angrh mengajukan pertanyaan, “Masih ada pertanyaan? Saya yakin masih satu, tapi nggak diungkapkan. Ini makan siangnya jam berapa?” “geerrrr” diikuti tawa kami semua. “Kalau tidak ada, saya rasa cukup dan terima kasih. Demikianlah yang bisa kami bagikan, mudah-mudahan bisa bermanfaat dan menjadi inspirasi buat teman-teman. Dan kami pun bersyukur Karena ini membuat kami merasa bahwa banyak teman dan  banyak saudara. Kira-kira itu yang dapat saya sampaikan mohon maaf kalau banyak kata yang tidak berkenan dan monggo acara selanjutnya saya serahkan. (Kl, 2 Februari 2014-red)

21 Januari 2014

Semua Orang Ingin Hadiah

Lord, teach me that my prayers
can only be answered
after the big pause of letting go.




Awan dan angin tanpa hujan, 
demikianlah orang yang menyombongkan diri
dengan hadiah yang tidak pernah diberikannya.
Ams. 25:16 


     Ya, semua orang ingin mendapat hadiah. Tidak perduli dia orang kaya atau orang miskin, berumur tua atau muda, pemalu atau tidak tahu malu, berhak atau tidak berhak. Wah yang terakhir yang agak berat, "berhak atau tidak berhak".
    Dikisahkan seorang pemuda yang dipercaya tuannya untuk membagikan 800 hadiah untuk dibagi-bagikan kepada para tamu-tamu pesta. Si tuan ingin membagikan hadiah-hadiah yang sudah ia siapkan bagi teman-temannya yang diundang ke pestanya. Tentu sang tuan juga menyediakan hadiah lebih dari sejumlah 800. "Siapa tahu ada kekurangan atau tamu yang datang bertambah diluar perkiraannya", pikir si Tuan. 

Orang yang menindas orang lemah untuk menguntungkan diri
atau memberi hadiah kepada orang kaya,
hanya merugikan diri saja. Ams 22:16 


    Adapun si pemuda yang mendapat kepercayaan si Tuan, berusaha sungguh-sungguh dalam pekerjaan sederhana itu, yaitu sebagai pembagi. Ia hitung terlebih dahulu, jumlah seluruh hadiahnya, ada 1.000 buah. 1.000 hadiah itu terbagi dalam beberapa kotak besar dan kecil dengan jumlah yang berbeda-beda. Si Tuan berpesan untuk tidak membuka semuanya dahulu, jadi ada kotak yang disisakan tidak dibuka.
    Dan saatnyapun tiba. para tamu berduyun-duyun datang ke pesta itu. Mereka ada yang dari golongan orang-orang kaya, menengah, dan biasa saja. Ada yang berdandan sederhana, adapula yang sangat mewah. Setelah para tamu puas makan dan minum mereka pun menuju tempat dimana dapat menukarkan kartu untuk ditukar dengan hadiah dari si Tuan. Ada dua jenis kartu yang disiapkan si Tuan. Kartu pertama untuk dipakai berfoto sekaligus ditukar kenang-kenangan berupa foto, dan kartu kedua untuk mengambil hadiah bingkisan.

Ternyata ada berbagai macam tipe-tipe perilaku tamu, antara lain:
1. Ada yang menyerahkan kedua jenis kartu sekaligus ditempat pengambilan hadiah bingkisan.
2. Ada yang memakai kartu untuk berfoto tapi untuk ditukarkan dengan hadiah bingkisan.
3. Ada yang yang benar yaitu dengan menukarkan kartu hadiah untuk mengambil hadiah bingkisan.
4. Ada yang meminta hadiah tanpa kartu pengambilan hadiah karena hilang
5. Ada yang sudah tahu kartu untuk berfoto tapi berusaha dengan sengaja menukarkan dengan hadiah
6. Ada yang tidak punya kartu alias bukan tamu undangan tetapi meminta hadiah
7. Ada yang punya satu kartu tapi meminta dua hadiah bingkisan.
8. Ada yang punya satu kartu tapi meminta hadiah bingkisan lebih dari dua
9. Ada yang memaksa meminta hadiah bingkisan meskipun tidak punya kartu.
10. Ada yang berhak mendapat hadiah tapi karena tidak dapat menunjukkan kartunya, rela tidak membawa hadiah
11. Ada yang menukarkan hadiah dengan memilih sendiri.




Kemudian Daniel menjawab raja: "Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku. Dan 5:17  



     Demikianlah tipe-tipe para tamu undangan. Lalu termasuk tipe yang manakah saudara? 

dan berlari-lari kepada tujuan 
untuk memperoleh hadiah,
yaitu panggilan sorgawi
dari Allah dalam Kristus Yesus. Flp 3:14 

    

20 Januari 2014

Candi Banyunibo, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Banyunibo
Banyunibo Temple




Candi Banyunibo merupakan kompleks percandian yang terletak di dusun Cepik, kelurahan Bokoharjo, kecamatan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Candi Banyunibo dibangun di dataran yang dikelilingi oleh perbukitan di sebelah utara, timur, dan selatan. Candi ini ditemukan kembali dalam keadaan runtuh pada bulan November 1940, selanjutnya dilakukan penelitian sampai tahun 1942 yang berhasil menyusun kembali bagian atap dan pintu candi. Sampai tahun 1962 berhasil menyelesaikan subasement, kaki candi, tubuh candi serta pagar sisi utara. Pemugaran candi Banyunibo dapat diselesaiakan pada tahun 1978. Candi Banyunibo terdiri dari satu buah bangunan induk dan 6 buah candi perwara yang terdiri dari 3 buah candi perwara selatan dan 3 buah perwara timur.




Candi Induk

Candi induk Banyunibo menghadap ke arah Barat, pada bagian kiri dan kanan tangga terdapat pipi tangga yang terdapat pahatan tokoh-tokoh yang belum dapat diketahui identitasnya. Pada bagian ambang pintu masuk, terdapat hiasan kalamakara (?), sedangkan pada bagian ujung pipi tangga terdapat hiasan makara yang berakhir dengan relief seekor singa.


Tubuh candi berbentuk tambun dan pada bagian dinding penampil sebelah selatan terdapat relief seorang wanita yang dikerumuni anak-anak, sedangkan relief di dinding utara menggambarkan seorang pria dalam posisi duduk. Candi Banyunibo mempunyai ukuran 15,325 x 14,25 m dengan tinggi 14,25 m, tinggi kaki candi adalah 2,5 m, masing-masing sudut candi terdapat Jaladwara yang berfungsi sebagai saluran air hujan.

Kaki candi Banyunibo pada masing-masing sisinya dibagi menjadi beberapa bidang (panel) yang berisi hiasan berupa tumbuh-tumbuhan yang keluar dari pot-pot bunga berbentuk seperti sandaran lampu duduk, pinggan, buah wortel, dan siput yang dianggap sebagai lambang kehidupan atau kesuburan. Di atas kaki candi terdapat selasar tanpa pagar langkan yang berfungsi sebagai jalan untuk mengelilingi candi. Kedua relief tersebut menggambarkan Hariti, dewi kesuburan dalam agama Budha, dan Vaisnawana (suaminya). Di sisi dalam dan luar terdapat relief tokoh Kuwera(?).


Didalam tubuh candi terdapat bilik yang berukuran 6.875 x 4,5m. Bagian dinding candi terdapat jendela-jendela yang dihias dengan pilaster.
Atap candi Banyunibo bagian bawah berbentuk daun bunga padma (ghania) yang di atasnya diletakkan puncak atap berbentuk stupa terdiri dari prasadha harmika dan yasti. Hal tersebut menunjukkan candi Banyunibo berlatar belakang agama Budha. (sumber: spanduk di kompleks candi Banyunibo)







16 Januari 2014

Baca Novel, Tingkatkan IQ


Baca Novel dapat Meningkatkan IQ


Senangnya membaca tuntas sebuah novel

     Senang rasanya, hari Selasa 14 Januari 2014 akhirnya usai sudah kubaca novel setebal 319 halaman seperti gambar di atas. Novel berjudul, Gunung Kelima atau "The Fifth Mountain" karangan Paulo Coelho cukup menarik. Paulo Coelho melukiskan perjalanan hidupnya seperti kisah nabi Elia dalam kitab Perjanjian Lama. Tidak sama persis sih... tapi mungkin bagi anak-anak yang membacanya perlu memahami kisah nabi Elia yang sesungguhnya dahulu agar tidak salah mengerti.

Manfaat Baca Novel

     Biasanya aku suka baca buku-buku non fiksi. Tapi komitmen di 2014 memaksaku untuk mencekoki otak ini dengan novel-novel. Beberapa artikel mengatakan bahwa membaca novel akan meningkatkan kecerdasan intelektual kita. Bahkan obrolanku dengan seorang penulis yang juga kutu buku novel, bahwa dengan rajin membaca novel, maka wawasan kita akan semakin bertambah dan terasah. Contohnya kita bisa tahu bagaimana seluk-beluk kehidupan atau dunia malam, tanpa pernah sama sekali mengenal dunia malam. Kita bisa tahu karena ada seseorang yang menuliskannya dari pengalaman pribadinya. Dan imajinasi-imajinasi kita bisa semakin terasah dengan pengalaman penulis yang tertuang dalam sebuah novel yang kita baca. Bisa memahami perwatakan orang, masuk dalam konflik yang mungkin sama sekali kita belum pernah alami, dan lain sebagainya.

Pelajaran dari novel "The Fifth Mountain"

     Nah, lalu sedikit yang ingin aku bagi ke temen-temen tentang novel Paulo Coelho kali ini, antara lain:

1. Kita perlu berkaca dan mewarisi keteladanan tokoh dalam Alkitab.
    Paulo Coelho telah memilih menghayati hidupnya seperti dalam sisi-sisi manusiawi yang dialami nabi Elia. sebab Alkitab tidak memrinci tentang sisi-sisi manusiawi atau konflik batin dan mungkin kesendirian dan penderitaan yang dialami nabi Elia. Bagaimana situasi-situasi yang mencekam yang dialami nabi Elia. Ketika nabi Elia harus menjadi buron karena kebijakan kerajaan saat itu bahwa semua nabi Allah saat itu harus dibunuh. Elia harus melarikan diri atau menyelamatkan nyawanya dan tinggal di sungai Kerit. Elia harus berjuang dalam keputusasaanya dengan 'dialog' bersama burung gagak. Di mana burung gagak dalam beberapa kisah biasanya digambarkan dengan 'pembawa berita kematian' tapi toh dipakai Tuhan bertugas memberi makan Elia dengan membawa roti dan daging.
     Selajutnya perjalanan Elia menuju Sarfat. kota dimana malaikat Tuhan berpesan untuk menyelesaikan suatu misi mulia. Di Sarfat-lah Elia dibentuk Tuhan. Ia harus bertemu dengan seorang janda miskin. Dimana keduanya saling beradu pendapat untuk memperjuangkan hidup matinya masing-masing. Elia juga diajari bagaimana ia dapat membuat mukjizat minyak yang akan keluar terus selama musim kemarau dirumah janda tersebut. Namun klimaks berlanjut dalam kisah si anak janda Sarfat yang mendadak sakit dan akhirnya nyawanya tidak tertolong. Diilustrasikan Elia dipersalahkan oleh penduduk setempat, dan juga manjadi pusat kambing hitam penyebab bencana di kota itu. Bahkan usaha Elia pun tidak secepatnya membuahkan hasil. usahanya dalam berdoa agar si anak hidup kembali tidak langsung terjawab. meletakkan tongkat di atas mayat anak itu juga belum membuat anak hidup kembali. Tapi ditengah usahanya yang seolah-olah bukan seperti nabi yang selalu mujarab pada akhirnya dapat membangkitkan si anak dari maut.
   
2. Konflik Asasi
    Dalam novel Gunung Kelima ini dikisahkan bagaimana Elia berjuang untuk menegakkan perdamaian. Meskipun ia bukan pengambil keputusan. Namun sangatlah sulit meneggakkan perdamaian itu. Mungkin penulis sangat menghargai hak-hak asasi manusia. Elia lebih yakin perdamaian lebih baik daripada perang. Bahkan kekerasan bukan jalan yang baik. Dan dalam kisah Jenderal Asyur yang harus tewas dalam cara dirajam, penggambarannya sangatlah menyentuh. Kebijakan dan konflik antara penguasa dan pelaksana eksekutor ternyata tidak mudah dipertemukan kata sepakat.

3. Sistem penulisan Byblos (Coelho:159)
     Semenjak orang atau bangsa mengenal alfabet atau tulisan, maka berubahlah peradaban bangsa itu. Dengan tulisan maka sejarah dapat diabadikan, diwariskan, dan dituturkan. Tulisan menjadi alat bukti bahwa generasi terdahulu ingin menyampaikan pesan bahwa mereka adalah bangsa yang menunjung tinggi perdamaian dan negosiasi.
     Alfabet adalah inovasi bangsa Yunani dengan manambah lima huruf yaitu huruf vokal kepada dua puluhan huruf Byblos. Sistem alfabet sangat bermanfaat dalam kontak dagang antar bangsa-bangsa.

4. Hidup itu naik dan turun dan seterusnya.
    Tiap orang punya mimpi dan cita-cita. Tapi Tuhan dalam menuntun kita atau penulis sungguh melewati jalan yang naik turun. Namun penulis berpesan bahwa kita tidak boleh menyerah dalam meraih cita-cita. Namun ada saatnya dalam suatu hidup adalah baik jika sesuatu itu harus dihancurkan atau dibakar atau diremukkan terlebih dahulu. Dan pejuang akan tetap memiliki semangat untuk memberbaiki masa depannya lebih baik. Selain itu hal-hal yang tidak bisa kita ubah harus kita relakan.

"Dan pejuang selalu tahu apa yang layak diperjuangkan. Dia tidak akan maju perang demi hal-hal yang bukan urusannya, dan dia tidak membuang-buang waktu untuk provokasi-provokasi.
"Pejuang juga bisa menerima kekalahan. Dia tidak menganggap enteng kekalahan, juga tidak berusaha mengubahnya menjadi kemenangan. Dia menelan kepahitan akibat kekalahan; dia akan bangkit kembali dan memulai segalanya dari awal. Pejuang tahu bahwa perang terdiri atas banyak pertempuran; dan dia akan terus maju. (Coelho:277-288)

5. Nama baru
     Dari peristiwa kehancuran kota itu serta kematian perempuan yang dicintainya, Elia belajar memahami bahwa dia pun perlu mempunyai nama baru. Dan pada saat itulah dia menamai hidupnya Pembebasan, (Coelho:270). Dan untuk ini aku menyebut diriku sebagai.... 'Yang dikaruniai'.

6. Menjadi Gubernur
     Dan pada akhirnya Elia dipilih rakyat menjabat sebagai gubernur di Akbar. Dan gubernur selanjutnya adalah anak si janda di Sarfat. Novel ini diakhiri dengan happy ending. perjalanan sebuah kota yang dihancurkan dan berubah menjadi kota yang tetap menjaga kedamaian dan keindahan.

Anak laki-laki itu tumbuh dewasa, menjadi gubernur di kota, dan dikenal sebagai orang bijak dikalangan rekan-rekannya. Dia meninggal dalam usia tua, ditengah-tengah orang yang disayanginya, dan kata-kata yang selalu dia ucapkan adalah, 

"Kota ini harus dijaga tetap indah dan kokoh,
sebab ibuku masih melangkah di jalanan-jalananya"
(Coelho: 314)





31 Desember 2013

Selamat Datang Lembaran Baru 2014

HIDUP CERMAT DI TAHUN BARU 2014

Tetapi jawab Ayub kepadanya:... 
Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, 
tetapi tidak mau menerima yang buruk?"... 
Ayb. 2:10




Dua Pilihan

     Silahkan pilih, baik atau buruk? Tentu kita semua akan memilih yang baik. Demikian juga Tuhan merancangkan yang baik kepada kita semua. Namun kita tidak menafikan hal buruk itu datang. Dan seolah-olah begitu terukir dalam perjalanan hidup kita. Tapi saya mengistilahkan hal buruk yang saya alami sebagai 'pendewasa hidup'. Hal buruk mengajari kita untuk tetap tekun, ia memberi pelajaran untuk tetap kuat, dan saat harus bertemu pada pilihan sulit, ia menunjukkan dua pilihan, yaitu: di satu sisi sebuah harapan dan di sisi yang lain peneguhan. 
     Dalam perenungan Natal 2013 mendasari kita tentang sebuah nama lain Yesus, yaitu kata 'Imanuel'. Sedangkan dalam Perjanjian Lama, yaitu Raja Damai. 'Imanuel' memberi kesaksian kepada saya bahwa Allah tetap bekerja dalam hidup saya, dalam saat yang baik dan tidak baik (seperti lagu KJ yang dilantunkan Zico, Tuhan menjagamu...waktu tenang atau tegang). Sedangkan 'Raja Damai', menggerakkan saya untuk berdamai dalam situasi baik dan juga yang tidak baik. Meraih impian dengan cara damai dan tidak menyalahkan orang lain di sekitar kita. Sekaligus menerima kekalahan, kegagalan, dan tidak terpenuhinya keinginan kita.


Sebab barangsiapa meninggikan diri,
ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri,
ia akan ditinggikan."
Luk 14:11  



Tuhan Adalah Jalan

     Tidak perlu bersedih. Kita masih dapat memperjuangkan hal baik dan janji Tuhan kita alami. Masih ada jalan bagi orang percaya. Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yoh 14:6. Dia buka jalan, saat tiada jalan. Dia bekerja dijalan-Nya, tak terlihat oleh kita... dst. Seperti petikan nyanyian di atas yang mengingatkan kita bahwa Tuhan itu Jalan. Saat tiada jalan, Tuhan membuka jalan. Luar biasa.
     Saat bangsa Israel dikejar Firaun dan pasukannya, mereka terjebak karena tiada jalan. Tapi Tuhan membuat jalan melalui laut. Ada juga kisah Zakharia sang imam yang menjadi bisu. Mungkin reaksinya yang shock seolah tidak percaya, bahwa nubuatan nabi-nabi perjanjian lama akan tergenapi melaluinya. Penantian panjang umat Israel akan akan seorang nabi besar yang penuh dengan roh Nabi Elia ternyata akan lahir dalam keluarganya. Sosok nabi besar yang akan mendahului sebelum kedatangan Mesias. Bukti bahwa Allah bekerja menurut jalan-Nya yang tak terlihat oleh kita.


Yes. 43:16-18
 Beginilah firman TUHAN, yang telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat, yang telah menyuruh kereta dan kuda keluar untuk berperang, juga tentara dan orang gagah  —  mereka terbaring, tidak dapat bangkit, sudah mati, sudah padam sebagai sumbu  — , firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!

     Tidak hanya saat mengalami kebuntuan. Tapi saat mengalami persoalan yang sukar Tuhan akan memberi jalan keluar. Seperti tertulis dalam 
1Kor 10:13 
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.


Give Thanks

     Seperti syair dalam lagu Give Thanks. Saya mau berkata aku kuat (yang lemah), aku kaya (yang miskin). Ya benar. Saat ini saya merasa kuat. Sebab bukan saya yang telah melakukan perkara besar namun kekuatan besar itu dari Tuhan sendiri. Saya mendapat kekuatan Tuhan dari kegagalan saya. Saya masih bisa menerima kegagalan dan berpikir jernih. Dan saya benar-benar kaya. Kekayaan itu adalah rasa damai dan kekuatan berdamai dan cara damai untuk mengubah lagi kegagalan menjadi keberhasilan. Terus berharap akan janji Tuhan. Sebab Tuhan adalah jalan.



Semangat tempur 

     Untuk itu dalam lembaran baru di tahun 2014, mari kobarkan semangat tempur kita. Seperti yang dibiasakan para raja di zaman Perjanjian Lama yaitu:


Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang,
maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba,
sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem.
2Sam 11:1 

     Mari kita cermati kelemahan-kelemahan kita. Dan kita perkuat kekuatan kita. Perang yang baik harus dengan strategi yang cermat. Dalam mencermatinya dibutuhkan berbagai 'adjust' dalam hidup kita. 

Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Mi 4:3 

     So, berikut strategi perang yang sesungguhnya di tahun 2014:
1. Imanuel. Minta penyertaan Tuhan.
2. Raja Damai. Meraih cita-cita dengan cara damai.
3. Jalan. Yesuslah jalan kita.
4. Mata bajak & pisau pemangkas. Membinasakan lawan dengan kerja keras dan inovasi yang tepat.


25 Desember 2013

Hadiah Natal 2013




Hari-hari yang Cepat Berlalu

     Satu tahun berlalu begitu cepat. Banyak sudah yg kita lakukan di tahun 2013. Dan tentu, di tahun-tahun sebelumnya. Ada catatan-catatan baik, prestasi-prestasi gemilang. Tapi ada juga cerita-cerita buruk, sedih, kecewa, dan kesendirian.
     Tahun ini, tepat tanggal 25 Desember 2013. Aku mengucap syukur kepada Tuhan atas kado Natal terbaik yang Tuhan berikan. Tapi bukan seperti yang keluar dari kantung sinterklas, ataupun hadiah-hadiah gemerlap yang dibeli di toko-toko ataupun mall dan plaza. Nah, hadiah Natal di tahun 2013 ini bagiku adalah ujian iman.
     
Ujian Iman

     Saat upaya-upaya dicoba, saat kesempatan terbuka, saat tes kehidupan dilalui. Dan persiapan paling optimalpun disiapkan, ternyata.... Apa yang aku pikirkan, impikan, dan cita-citakan belum membuahkan hasil. Tapi doa telah membuatku kuat. Aku tidak lemah dan hilang harapan baru.

Tanda-tanda itu Mulai Pudar?

1. Pelangi
    Pelangi atau Busur Allah adalah janji Tuhan sejak zaman nabi Nuh. Tanda ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak akan menghukum bumi lagi dengan air bah.
    "Tetapi Tuhan, mengapa ada topan yang mengerikan dan menyapu kehidupan di bumi?" tanyaku dalam hati.
    Pelangi = janji. Tapi aku tidak akan tahu kapan akan datang waktu janji itu digenapi? Sampai mungkin nantinya aku akan dapat bersaksi.

2. Mazmur 37:6, Roma 5:5
    Mzm 37:6  Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. Mungkin banyak     kebetulan dalam hidup ini menemukan ayat-ayat yang indah. Dan tentu bukan ayat ini saja. Apalagi  merenungkan bahan bacaan di masa Advent. Kisah hidup imam Zakharia, Elisabeth, Maria, dan lainnya.
    Apakah Tuhan senang berjanji? Tapi digenapi hanya untuk tokoh-tokoh saleh di Alkitab saja?
   
3. Seperti Kebetulan-kebetulan dalam Keseharian
   Orang yang senantiasa mengerubungiku dan mengejarku. Tentang klaim kerugiaan yang selalu dituntutnya, tentang keluhan yang ingin ada jawabnnya, tentang order besar yang seperti tanpa alasan datangnya, tentang order spesial yang salah jurusan, tentang kecanggihan dunia digital, tentang telepon tentang pencurian, tentang apa yang terasa menjadi pesan khusus buat aku. Tapi maaf mas itu memang kebetulan.
   Menghayati renungan, menganggap semua yang merepotkan kita dan berusaha kita tolong adalah "Yesus yang sedang menyamar". Sepertinya menarik bukan?

4. Tentang Fakta
   Aku harus ingat kisah Thomas Alfa Edison, Abraham Lincoln, maaf untuk tokoh lokal aku belum punya.
   Mungkin almarhum ayahku. Sedang tokoh Alkitab yaitu Yakub. Mereka semua adalah tokoh-tokoh panutan yang tidak pernah menyerah, mencoba lagi sampai berhasil.
   Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya. Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: "Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang    lebih muda itu."Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.  Kej 29:17-20.

5. Makna Natal 2013 bagiku
   Tuhan dalam Yesaya 9:6 menyandang hal-hal yang harus diakui dan diterima, yaitu:

   1). Lambang pemerintahan ada di atas bahunya,
        Dalam semua yang kita anggap kegilaan dalam dunia ini, keserakahan, penindasan, dan pelecehan, dan lainnya. Ingatlah, bahwa Yesus yang mengenakan lambang pemerintahan di bahunya, adalah Kepala Pemerintahan di atas pemerintahan apapun yang tetap memimpin dengan benar.

   2). Penasihat Ajaib, 
        Doa adalah cara kita mendapatkan nasihat terbaik dari Tuhan. Jika kita tidak kuat, tapi ternyata mampu bertahan ataupun tidak menyerah, bukankah itu ajaib? Meski harus dalam jalan yang sama terjal.

   3). Allah yang Perkasa, 
        Manusia boleh membuat mahakarya besar yang bermaksud agar bisa dikenang kebesarannya. Tapi Allah yang Perkasa itu lahir dalam keluarga yang sederhana dan mengalami perjalanan panjang dan melelahkan. Tapi Bayi itu selamat dan tumbuh dewasa.

   4). Bapa yang Kekal,
        Semua hal dunia tidaklah kekal. Syukur kita dikarunia hal-hal yang membawa kekekalan.

   5). Raja Damai.
        Kata 'damai' mengingatkanku kepada seekor keledai beban muda. Keledai itu dipakai Yesus masuk ke  Yerusalem. Cara terbaik hidup di dunia yang 'gila' ini adalah hidup dengan 'rendah hati' untuk mendapatkan kemuliaan dan kedamaian.

Hadiah Natal Sesungguhnya

    Jadi, hadiah Natalku begitu berharga. Ia lebih mahal daripada perak, atau emas tua. Bukan sekedar untuk tidak menyerah. Tetapi berdamai terhadap diri sendiri, berdamai terhadap orang lain, dan berdamai terhadap dunia dan nafsunya.
    Selamat Natal 2013 dan menyambut Tahun Baru 2014 kepada orang-orang gagal. Sebab kegagalanmu hanyalah istilah dari dunia. Sesungguhnya kita adalah orang yang dipersiapkan Tuhan untuk maksud yang mulia.

Pkh 9:16  Kataku: "Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan, tetapi hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang."


   


Wikipedia

Hasil penelusuran

SolaAgape. Diberdayakan oleh Blogger.
 

My Blog List

Site Info

Padaleman Suci GKJ Tanjungtirto

Followers

Sekolah Agape Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template