30 September 2009
29 September 2009
Suara Gondokusuman Mempersembahkan Album for U

Sabtu (19/9) usai kebaktian sore pukul 18.00, Suara Gondokusuman (SG) menggelar acara ramah tamah yang sekaligus menandai secara resmi peluncuran album pertama mereka, For You. Suara Gondokusuman merupakan kelompok band muda-mudi GKJ Gondokusuman yang dibentuk sejak September 2005.
Berawal dari kerinduan untuk melayani Tuhan melalui musik dan puji-pujian, SG pada ulang tahunnya keempat mempersembahkan musik dan lagu karya mereka sendiri. Dalam acara ucapan syukur di GKJ Gondokusuman malam itu, Brian, mewakili para personel SG melakukan pemotongan tumpeng dan menyerahkannya kepada Bapak Dodi yang mewakili majelis gereja.
Album berjudul For You berisi sepuluh buah lagu. Album ini direkam dalam cakram optik dan sudah dapat diperoleh di toko kaset rohani dan toko buku rohani terdekat. Dengan semboyan “menyanyi untuk Tuhan” (sing for God) para awak SG bertekad untuk terus memuji Tuhan. Suara indah mereka sekarang juga sudah mulai mengudara lewat siaran rohani radio-radio di Jogja. Proficiat untuk Suara Gondokusuman!
Kapan pemuda GKJ Tanjungtirto ikut menyusul? (#jw untuk SolaAgape)
Yesus Mengutus Murid Berdua-dua
Acara Keakraban Praremaja dan Remaja GKJ Tanjungtirto
“Dari pos 1 apa yang kamu dapatkan?” tanya Pendeta Sundoyo kepada salah satu peserta outbond.
“Soal,” jawab anak praremaja itu polos.
“Apalagi selain itu?”
“Ya, soal,” jawabnya lagi dengan nada agak melengking. Para peserta yang mendengar jadi tertawa.
“Kalau begitu…,” Pak Pendeta mulai mengalah. Beliau sibuk mencari-cari pertanyaan yang lebih tepat. Setelah itu, Pak Pendeta bertanya sekali lagi, “Apa manfaat yang kamu dapat dari sana?”
“Kerja sama.”
Nah…! Semua lega. Pertanyaan pun terjawab. Pak Pendeta dan hadirin tertawa. Mereka sekalian bertepuk tangan gemuruh.
Sebelum menyampaikan renungan yang diselenggarakan dalam acara outbond di Kompleks Aerowisata, Minggu (13/9), Pendeta GKJ Brayat Kinasih itu menyapa anak-anak tentang kesan-kesan mereka terhadap acara yang mereka ikuti. Anak-anak tampak antusias menjawab. Salah satu peserta mengaku bahwa ia berkesan dengan pos lima, sementara yang lain lagi berkesan dengan pos Sungai Yordan. Acara yang dimotori Komisi Anak dan Praremaja GKJ Tanjungtirto ini memang diikuti oleh anak-anak usia praremaja dan remaja dari GKJ Tanjungtirto.
Pendeta Sundoyo kemudian mengajak para peserta untuk menyimak Lukas 10:1–3. Dan dengan lincah pendeta muda ini membacakan petikan Firman Tuhan tersebut. Mengulang ayat yang terakhir, Pak Pendeta berkata sambil memberikan sedikit peragaan.
“Jadi, Tuhan mengutus kita seperti anak domba ke tengah-tengah …?” tanya Pak Pendeta sembari membentangkan tangannya menunjuk kepada para peserta.
Pak Pendeta sekali lagi mengulang pertanyaan itu. Dengan jenaka, beliau menunjuk pada dirinya saat berkata seperti anak domba, lalu membentangkan tangan menunjuk ke seluruh peserta saat bertanya, “Ke tengah-tengah…?”
Hadirin yang tahu, lambat laun tersadar. Mereka pun tertawa sementara yang lain menyelutuk untuk menjawab, “Manusia!”
Lewat dua ayat bacaan dalam Injil Lukas itu, Pendeta Sundoyo menyampaikan bahwa ada dua kategori pengikut Yesus. Yaitu, satu yang disebut murid dan yang lainnya simpatisan.
“Kira-kira temanmu masuk yang mana?” tanya pendeta muda ini dalam nada canda. “Kalau simpatisan, baru mencari Yesus saat membutuhkan. Kalau sakit, minta disembuhkan. Kalau pas ujian, baru ikut persekutuan. Berbeda dengan murid. Murid selalu bersama dengan Tuhan.”
Yesus juga mengutus murid berdua-dua. Lalu, seandainya domba di tengah-tengah serigala, bagaimana cara kita agar bisa selamat?
Salah satu peserta menyahut, “Mabur!”
“Apa domba bisa terbang?” tanya Pak Pendeta.
“Ambil langkah seribu,” seru yang lain.
“Tapi, apa domba tidak kalah cepat dengan serigala?” sergah Pak Pendeta.
Namun, ada juga yang menjawab, “Berdoa!” sementara yang lain lagi ada yang berseloroh untuk berpura-pura saja jadi serigala. Sayang, pilihan terakhir ini tidak tepat karena lambat laun serigala bisa mengetahui penyamaran tersebut.
Pak Pendeta menjelaskan bahwa sumber kekuatan domba sebenarnya ada pada gembala. “Jadi, jangan melihat pada kemampuan sendiri. Pada zaman dahulu gembala digambarkan memiliki tongkat. Ujung tongkat itu satunya lurus, sedangkan ujung lainnya melengkung. Tongkat dan gembala akan mengarahkan dan membimbing kita. Teman-teman harus punya tempat persekutuan supaya tidak dimakan serigala.”
Menutup acara Mbak Tatik, salah satu panitia penyelenggara, mengumumkan para juara outbond. Juara I dengan nilai 1410 adalah kelompok abu-abu, juara II dengan nilai 1360 kelompok kuning, dan juara III kelompok merah dengan nilai 1340. Setiap juara menyampaikan yel-yel sebelum menerima hadiahnya. Berkenan menyampaikan hadiah adalah Bapak Ngadiran, Ibu Budi Yudhaningtyas, dan Mas Wahyu Ardhianto. (#jw-untuk SolaAgape)
22 September 2009
Sekilas Cerdas Tangkas Alkitab
Gambar oleh: Daniel Kus Pawono
Pewarna dan Editing warna oleh: Tejo
Ada seseorang yang sudah empat hari mati terbaring di dalam kubur. Namun Yesus berkenan membangkitkan orang itu. Siapa ya, namanya?
Jawab: Lazarus (Yoh 11:17)
Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi" (Yoh। 11:44).
Nah, pelajaran yang bisa kita petik adalah:
Mengenai hal ‘terlambat’. Maria & Marta mengirim kabar kepada Yesus perihal saudara mereka Lazarus yang sedang sakit. Yesus pun mengunjungi rumah Maria & Marta bersama murid-murid-Nya. Namun Maria & Marta menganggap kedatangan Yesus sudah terlambat. Lazarus sudah meninggal dan sudah dikuburkan dalam gua selama empat hari (Yoh.11:39). Saat kita menganggap sudah ‘terlambat’, Yesus mengajar kita ‘percaya’ bahwa belum ‘terlambat’ (Yoh.11:15).
Di Kana, Galilea, Yesus membuat mukjizat-Nya yang pertama kali. Mukjizat apakah itu?
Jawab: Mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:9-11).
Sebelum diurapi sebagai raja, Daud biasa bekerja sebagai apa?
Jawab: Gembala (1 Sam 17:34)
Selain Daud, ada juga yang bekerja sebagai gembala। Antara lain: Habel (Kej।4:2), Yakub (Kej.30:31), Musa (Kel2:25), dan Yesus (Yoh.10:11).
Pernah dicatat dalam sejarah, matahari berhenti bergerak di tengah langit. Sebab Tuhan mendengarkan doa orang ini. Siapakah dia?
Nah, Pelajaran yang dapat kita petik adalah:
Yosua telah ditetapkan Tuhan untuk menggantikan Musa। Ia dipilih untuk melanjutkan memimpin perjalanan bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan. Musa memang sudah lanjut umurnya, yaitu seratus dua puluh tahun (Ul.31:2). Sedangkan Yosua adalah sosok orang muda menurut saya. Dalam Kamus KBBI edisi ke empat arti kata ‘muda’ yaitu: 1. belum sampai setengah umur. Jadi jika rata-rata umur manusia mencapai 80 tahun berarti kira-kira batas seseorang masih bisa dikatakan muda mungkin 0 sampai umur 40 tahun. Tapi saya tidak tahu persis berapa umur Yosua kala itu menggantikan Musa. Yang jelas bagi orang muda atau para pemuda, yakinlah! Jika engkau mau, Tuhan dapat memakai Anda untuk melakukan karya-karya hebat seperti Yosua. Salah satu contohnya adalah doa Yosua di atas (Yos.10:12-14).
Ternyata nama ‘Golgota’ memiliki arti yang menyeramkan. Apa ya, arti Golgota?
Jawab: Tempat tengkorak. (Mrk. 15:22)
Nah, Pelajaran yang dapat kita petik adalah:
Tuhan Yesus mati di Golgota. Ia mati untuk menebus dosa dunia. Semasa hidupnya, Yesus memiliki 12 murid. Hingga sekarang pengikutnya semakin bertambah banyak dan tersebar di seluruh dunia. Luar biasa bukan?!
Seorang guru yang mati hina di kayu salib namun memiliki banyak pengikut dan terus bertambah. Ya, karena guru itu mati namun di hari ketiga Ia bangkit. Ia membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah yang menang atas maut. Ia telah menaklukkan kuasa maut. Maukah Anda menerima Dia sebagai Juruselamatmu secara pribadi? Dengan pengorbanan-Nya, Yesus telah menawarkan anugerah keselamatan bagi setiap orang yang mau percaya.
6. Sudah jatuh tertimpa tangga. Demikian pepatah mengatakan. Mungkin inilah yang disangka orang mengenai apa yang dialami seorang rasul saat itu. Kapalnya terombang ambing lalu kandas & hancur. Setelah rombongan itu tiba dengan selamat di pantai, barulah mereka tahu, bahwa daratan itu bernama pulau Malta. Penduduk pulau Malta sangat ramah terhadap mereka. Lalu mereka menyalakan api besar dan mengajak semua ke situ karena turun hujan dan hawanya dingin. Ketika rasul ini memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya di atas api, keluarlah seekor ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. Siapa ya, nama rasul itu?
Jawab: Paulus (Kis। 28:3-6).
Pelajaran yang dapat kita petik adalah:
Saat orang benar sedang mengalami rentetan musibah, kemalangan, atau ketidakmujuran jangan sedih. Justru Tuhan hendak menyatakan mukjizatnya melalui kita.
Bila Anda membaca kisah selanjutnya dalam Kis. 28:4-6, ternyata anggapan beberapa orang mengenai rasul Paulus itu bisa berbalik 180º. Mereka men-judge rasul Paulus sebagai seorang pembunuh. Ular beludak yang menggigitnya pastilah akan membuatnya bengkak atau akan mati rebah seketika itu juga. Namun apa yang terjadi selanjutnya? Rasul Paulus tidak mengalami apa-apa yang buruk. Sebaliknya orang-orang menjadi heran dan berpendapat bahwa rasul Paulus seorang dewa.
Nah, apapun yang sedang kamu alami saat ini, mungkin sesuatu yang buruk sedang menimpa, yakinlah! Jika kita telah hidup benar maka Tuhan akan mengubah opini atau gosip orang disekitar kita menjadi hal yang indah. Sebab, Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya (Pkh.7:8a).
16 September 2009
PLENGKUNG NIRBAYA
PLENGKUNG NIRBAYA
Gambar di atas adalah Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya, tampak terlihat dari sisi utara. ‘Nir’ artinya ‘tidak’, ‘baya’ artinya ‘bahaya’. Secara sederhana bisa diartikan dengan sebuah jalan yang tidak bahaya. Demikian menurut saya.
Filosofi Pohon Asem dan Tanjung
Bila kita berjalan ke selatan Plengkung Nirbaya ini, terus melewati perempatan, maka jalan lurus ini ternyata menuju ke Krapyak. Di sebelah kanan dan kirinya jalan lurus tersebut dihiasi dengan pohon Asem dan Tanjung. Menggambarkan kehidupan Sang Anak yang lurus, bebas dari rasa sedih dan cemas, rupanya “nengsemaken” (menarik) serta disanjung-sanjung selalu, istimewa oleh ibu bapanya.
Makna ‘Tanjungtirtha’
Lalu ada sebuah gereja pula bernama Tanjungtirtha. ‘Tanjung’ (sebuah tanaman) dan ‘tirtha’ berarti air. Di dalam Alkitab kata ‘air’ dipakai dalam banyak sekali perumpamaan. Antara lain sebagai sumber kehidupan makhluk hidup, untuk membaptis (Yoh.1:33), membasuh, membersihkan, menyucikan (Ef.5:6), mentahirkan, menyembuhkan (Yoh.5:3-7), memberi kesaksian di bumi (I Yoh 5:8), asal muasal bumi (II Pet.3:5), sebagai minuman (Mrk.9:41), dll. Begitu banyaknya makna atau perumpamaan air. Tidakkah Tanjungtirtha pun bisa menjadi sebuah air multiguna bagi sesama sehingga hanya Nama Tuhan Yesuslah yang senantiasa disanjung-sanjung tinggi!? Ataukah Anda memiliki makna lain mengenai ‘Tanjungtirtha?”. Tuliskanlah komentar Saudara di bawah ini.
Ayat emas
Markus 9:41. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."
Diolah dari sumber:
K।P.H. Brongtodiningrat, diterjemahkan R. Murdani Hadiatmaja. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta. (tj)
14 September 2009
INIBUK (INFORMASI BUKU)
Judul Buku : TUX PAINT for Kids:
Belajar menggambar dengan Tux Paint untuk anak usia 3 tahun ke atas.
Harga : Rp 42.500,00 (+Bonus CD)
Penulis : Raden Teja Yokanan
Penerbit : YESCOM (imprint Penerbit ANDI), Yogyakarta.
Tahun terbit : 2008
Seri : Computer Graphics
Jumlah hal : 108
Ukuran : 19 x 23 cm
Komentar :
Buku ini layak dibeli para orang tua sebagai hadiah bagi anak-anaknya. Staf pengajar lembaga pendidikan PAUD, TK, dan SD layak memborong banyak untuk para siswa-siswinya. Buku ini mengajari anak kreatif dalam seni menggambar dengan fasilitas instalasi free software (perangkat lunak gratis) terkemuka. Sebuah buku panduan program gambar yang disertai tips dan efek suara menarik! Bagi orangtua yang ingin anaknya tidak gaptek nantinya dengan Corel Draw, Adobe Photoshop, dll tak akan rugi membeli buku ini। Segera, pilih investasi bermutu ini bagi anak Anda yang kelak akan dewasa di dunia grafis!
Judul Buku : Blogspot Top Secret:
Mengungkap rahasia rertinggi yang paling diinginkan para blogger!
Harga : Rp 49.800,00 (+Bonus CD)
Penulis : Ridwan Sanjaya
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
Tahun terbit : 2009
Jumlah hal : 270
Ukuran : 14 x 20,8 cm
Komentar :
Akhirnya saya menemukan buku yang saat ini paling memuaskan keingintahuan saya seputar rahasia-rahasia make over desain blog klasik maupun versi baru.
Judul Buku : Membuat Blog dengan Blogspot
Harga : Rp -
Penulis : Ridwan Sanjaya
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
Tahun terbit : 2007
Seri : Best Seller
Jumlah hal : 172
Ukuran : 14 x 20,5 cm
Komentar :
Anda belum pernah membuat blog? Ingin belajar membuat blog? Buku ini layak Anda miliki. Berisi panduan mudah membuat blog, cara memodifikasi tampilan blog, menambah asesoris blog, dan beberapa tip menarik lainya seperti: mengetahui popularitas situs blog dan penerjemah bahasa. Buku ini murah namun isinya berbobot dan cocok bagi pemula.
11 September 2009
"Melayani Meja!”
(Dasar firman Kis. 6:1-7)
Dua kata di atas adalah jawaban Alkitab atas pertanyaan yang akhir-akhir ini sedang trend. “Apakah Anda ingin gereja berubah………?” (tentu berubah menjadi semakin besar dan banyak-penulis), Apakah mimpi Anda untuk perubahan gereja (Injil semakin tersebar tentunya-penulis), “GKJ Tanti mau kemana? Pertanyaan-pertanyaan tadi telah dibawa dalam sarasehan, bahkan dipresentasikan, dan mungkin juga dibahas dalam PA-PA dan diskusi-diskusi.
* * *
Adalah perikop Kis. 6:1-7, kisah tentang: Tujuh Orang yang Dipilih untuk Melayani Orang Miskin. Ada konflik dalam kisah tersebut. Namun juga ada mimpi, angan, dan harapan pembaharuan, sebab ternyata ada Firman Allah yang dilalaikan. Konflik yang terjadi yaitu: …, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari (Kis. 6:1). Syukur, karena hati para rasul sadar bahwa ada yang perlu diluruskan dalam pelayanan mereka. Dikatakan, Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja (Kis.6:2).
Jemaat masa itu yang jumlahnya semakin banyak, kontekstual juga seperti di GKJ Tanti pada masa kini. Dan ada banyak aspek yang ingin dibangun dalam gereja, baik rohani maupun jasmaninya. Golongan cerdas dan intelektual ingin menghadirkan teknologi dalam gereja, misalnya. Lalu hadirlah ‘LLP Masuk GKJ’ (LLP maksudnya: Laptop, LCD, dan Proyektor). GKJ dengan ‘J’ yaitu: Jawa yang konon sebagai identitasnya yang harus ditonjolkan, menjadi dipertanyakan. Setiap pembaharuan tetap ada plus dan minus-nya. Pada jaman Yesus, belum ada LLP tadi, namun terbukti ada tertulis: Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka (Mat.7:28-29). Jadi saya tidak sependapat opini bahwa kotbah pendeta atau pembawa firman panjang, dan membosankan. Saya tidak merasa demikian?! Seharusnya kita malah takut kalau LLP tersebut nantinya malah akan menyingkirkan sosok penting manusia yang menyampaikan Firman. Jemaat jangan sampai tergiring dan terbius dengan penginjilan melalui film, efek gambar, dan teknologi. Meskipun memang ada nilai plus dengan hadirnya LLP tersebut. Hanya para Eyang-eyang kita yang sudah sepuh tentu pasti bukanlah golongan yang memperjuangkannya. Teknologi harus dapat mendukung karya manusia jangan sampai sebaliknya, mentunakaryakan.
Ada lagi golongan yang meyakini alat-alat musik bisa mendukung kemajuan gereja. Seperti dalam I Taw. 23:4-5, “Dari orang-orang ini dua puluh empat ribu orang harus mengawasi pekerjaan di rumah TUHAN; enam ribu orang harus menjadi pengatur dan hakim; empat ribu orang menjadi penunggu pintu gerbang; dan empat ribu orang menjadi pemuji TUHAN dengan alat-alat musik yang telah kubuat untuk melagukan puji-pujian," kata Daud. Dengan pengalaman dan wawasannya raja Daudpun membuat alat-alat musik untuk pekerjaan di rumah TUHAN (ayt. 5). Gamelan jika dulu pernah ada di GKJ Tanti sebenarnya menambahkan nilai ke-khasannya sebagai GKJ. Alat musik gamelan harus dimainkan oleh banyak orang. Berbeda dengan LLP yang perlu satu atau dua operator saja. Kebanyakan golongan sepuh menyukai musik gamelan. Mengiringi lagu Jawa sebagai sarana memuliakan Allah bangsanya. Namun nampaknya frekuensi pemakaian dan jumlah pemain musik gamelan juga sudah semakin berkurang. Sehingga sebenarnya gamelan bisa sebagai sarana mengundang banyak jiwa untuk membunyikannya (I Kor.14:7).
Sampai pada golongan yang muda, yang kurang ‘direngkuh’. Perlu dijelajahi minimnya partisipasi dan kontribusinya dalam setiap ibadah minggu gereja. Kunci-kunci keuangan gereja jangan terlalu dipendam untuk mereka. Gereja berkorban untuk pengembangan talenta generasi penerusnya. Memberikannya sarana dan prasarana untuk bersosialisasi mengundang banyak jiwa untuk berinteraksi di rumah TUHAN. Satu demi satu jiwa dimenangkan, jangan sampai terhilang sia-sia. Untuk mereka, dari anak-anak, pra-remaja dan pemuda sebagai tulang punggungnya gereja.
Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." (Kis. 6:3-4). Jadi, komisi-komisi (badan Pembantu) yang saya ibaratkan sebagai para murid fokus ‘melayani meja’. Sedangkan Pendeta, Majelis, dan Diaken fokus doa dan pelayanan Firman. Masing-masing mempertajam diri dalam tugas, panggilan dan karunianya. Sehingga harapan akhir atas pertanyaan-pertanyaan kita semoga terjawab seperti dalam ayat penutup perikop Kis 6:1-7, yaitu: Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya (ayt. 7).
Seperti contoh dalam pelayanan Komisi Sosial pada beasiswa pendidikan Semasa kuliah, saya pernah menerima beasiswa dari Sinode GKJ-GKI se-Jateng sampai akhirnya menyelesaikan pedidikan. Mungkin kecil nilainya bagi anggapan sebagian orang. Hanya Rp XX.000,00/bulan. Namun sangat membantu bagi mereka yang memerlukannya. Melayani meja berarti jangan lupakan mereka yang miskin, para janda, dan yatim-piatu. “Apakah gereja mau berkembang?” Jawabnya adalah, “fokus layani meja!” Kiranya bermanfaat.
YMMR. 30/03/09. Penulis adalah pengurus Sie Rohani dan Musik, Komisi Anak dan Pra-remaja GKJ Tanti.
10 September 2009
Pelatihan Penyusunan Program Gereja
Pelatihan Penyusunan Program Gereja:“Berlatih 2 hari untuk sebuah Visi”
Selama dua hari berturut-turut (22,23/08), Bidang Pembinaan dan Pengembangan GKJ Tanti menggelar pelatihan dan penyusunan program kerja bagi pengurus Bidang dan Komisi-komisi.
Namun ada yang janggal pada pengumuman di Warta Gerejanya. Pengumuman di Warta Gereja 16 Agustus 2009 tertulis demikian:
RAPAT PENYUSUNAN PROGRAM BIDANG/KOMISI.
Bidang Pembinaan dan Pengembangan GKJ Tanti akan mengadakan Rapat untuk Penyusunan Rencana Program Kerja bagi Bidang dan Komisi-komisi pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009 pkl.16.00 s.d. 21.00 dan Minggu, 23 Agustus 2009 pk. 10.00 s.d. 16.00 di gedung 2 Teguhan. Dimohon bagi yang berkompeten untuk menghadiri acara tersebut.
Bandingkan dengan pengumuman Warta Gereja pada tanggal 23 Agustus 2009, yang tertulis demikian:
PELATIHAN & PENYUSUNAN PROGRAM KERJA BIDANG/KOMISI.
Bidang Pembinaan dan Pengembangan GKJ Tanti mengadakan pelatihan & penyusunan program kerja bagi Bidang dan Komisi-komisi yang telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009 pkl. 15.30 s.d. 21.00 dan akan dilanjutkan pada hari ini: Minggu, 23 Agustus 2009 pk. 09.30 s.d. 16.00 di gedung 2 Teguhan. Bagi yang berkompeten dimohon kehadirannya.
Nah, ternyata memang acara yang dilaksanakan adalah ‘pelatihan’ bukannya sebuah ‘rapat’. Sepertinya, memang bukan sebuah kesalahan ketik di pengumuman Warta Gereja. Kenapa ya? (masing-masing boleh menafsirkannya sendiri)
***
Tampil sebagai pembicara sekaligus trainer adalah Pdt. Widi Artanto dari GKI. Wongsodirjan Yogyakarta. Sebelum menyampaikan makalah dan permainan beliau memberikan poin penting yang mungkin tidak terlalu diperhatikan dan ditanggapi audiens.
Dari buku: “Bahan Rapat Majelis Terbuka 2008 GKJ Tanti” yang beliau pelajari, disimpulkan bahwa: Struktur organisasi dengan 6 Bidang dan 16 Komisi yang dimiliki GKJ Tanti ini telah melakukan banyak sekali kegiatan. Giat dalam pekerjaan Tuhan tidaklah salah namun jangan sampai terjebak menjadi AKTIVISME. Bidang atau Komisi tidak boleh asyik dalam kegiatan kelompoknya sendiri-sendiri. Akan berbahaya jika semisal ada sebuah Komisi yang paling populer sendiri.
Kegiatan Bidang dan Komisi merupakan satu kesatuan yang harus saling memperhatikan. Seperti dalam sebuah permainan menyusun puzle-puzle 5 buah bujur sangkar yang sama besar. Setiap kelompok yang terdiri atas 5 orang masing-masing diharuskan menyusun 5 buah bujur sangkar yang sama persis dengan prinsip saling memberi dan melayani antar anggotanya. Ini menggambarkan bahwa antara Bidang dan Komisi pun harus saling memperhatikan, memberi & melayani. Sebab, keterlibatan di dalam gereja atau terlibat dalam pelayanan bukan bertujuan untuk menonjolkan diri. Dasar pelayanannya adalah pelayanan Kristus. Selain itu harus saling berkomunikasi sehingga mudah memecahkan sebuah masalah.
Dan sebenarnya pelayanan pada kelompok yang berbeda-beda nilai pelayanan nya adalah sama. Digambarkan dalam sebuah hasil susunan 5 buah puzle bujur sangkar yang sama persis. Nah, kita bisa studi kasus pelayanan di GKJ Tanti apakah cenderung menjadi ‘Aktivis’ atau ‘Pelayan’? Bagan berikut akan menjelaskan perbedaan Aktivisme dan Pelayanan:
Perbedaan Aktivisme dan Pelayanan.
| No. | AKTIVISME | PELAYANAN |
| 1. | Pekerjaan manusia yang sering mengatasnamakan Tuhan (pelakunya disebut aktivis) | Pekerjaan Tuhan yang melibatkan manusia (pelakunya disebut pelayan) |
| 2. | Demi kepentingan dan kepuasan manusia (diri sendiri/kelompok) | Demi kepentingan orang banyak dan kemuliaan nama Tuhan |
| 3. | Bila sukses orang itu akan berbangga & menyombongkan diri. | Bila sukses, orang itu akan bersyukur kepada Tuhan. |
| 4. | Bila gagal orang itu akan putus asa, mundur, atau ngambeg | Bila gagal orang itu akan memohon kekuatan baru & memohon lagi pertolongan Tuhan. |
| 5. | Di ‘atas’ ke ‘bawah’ arogansi rohani. | Di bawah bersama–sama mendampingi dengan rendah hati |
| 6. | Orientasi pada aktivitas/kegiatan | Orientasi pada manusia.
|
Nah, berikut ini adalah prinsip-prinsip pengelolaan program kerja gereja, yaitu:
1. Analisis Situasi (Diagnosis)
Kita menyusun program berdasarkan kebutuhan atau masalah pokok yang dihadapi oleh warga gereja dan bukan berdasarkan: “warisan masa lampau”, keinginan tokoh tertentu, keinginan Majelis Gereja atau Komisi, ikut trend, cari yang wah dan hebat, dll. Jadi analisis situasi adalah: Usaha untuk memperoleh gambaran lengkap dari sebuah situasi dengan menggali hubungan antara fakta yang ada dan fakta yang memprihatinkan agar ditemukan masalah atau kebutuhan pokok yang perlu diatasi.
2. Menetapkan/merumuskan tujuan
Kita tidak boleh merumuskan tujuan dengan kata kerja atau mengatakan kegiatan apa yang akan dilakukan, melainkan suatu situasi baru yang hendak dicapai dengan melaksanakan program kerja itu. Gambaran yang sederhana: bila kita merencanakan untuk pergi dari Yogyakarta ke Jakarta, maka tujuan kita bukanlah melakukan perjalanan ke Jakarta, melainkan sampai di Jakarta dengan selamat.
Adapun macam-macam tujuan, yaitu:
a. Tujuan jangka panjang = visi dan misi gereja untuk 4-5 tahun
b. Tujuan tahunan gereja tahun ini menuju tercapainya visi dan misi gereja
c. Tujuan untuk setiap mata program.
3. Penyusunan Program Kerja
Lalu, berdasarkan analisis dan rumusan tujuan, disusunlah sebuah program kerja gereja. Secara ringkas, program kerja gereja dapat di pahami sbb:
Upaya yang terencana, terarah dan berkesinambungan untuk mencapai tujuan (Visi dan misi) yang menjawab kebutuhan gereja.
Program berbeda dengan kegiatan dalam arti bahwa program adalah usaha yang kita lakukan agar kegiatan-kegiatan menjadi terencana, terarah, dan berkesinambungan. Kegiatan itu sendiri merupakan bagian dari program dan program bukanlah sekedar deretan atau kumpulan kegiatan-kegiatan.
Program kerja tidakmungkin dibuat tanpa mengadakan analisis situasi dan merumuskan tujuan (visi dan misi) dengan jelas terlebih dahulu.
Kebutuhan atau masalah yang akan dijawab atau diatasi dengan melaksanakan suatu program adalah kebutuhan atau masalah para warga gereja. Bukan suatu dugaan dan rekayasa dari Majelis/Bidang/Komisi.
Yang dimaksudkan dengan ‘program kerja gereja’ adalah keseluruhan program yang disusun oleh Majelis Gereja, Bidang-bidang, komisi-komisi, Panitia, dan Tim yang ada dalam sebuah gereja. YMMR
Sumber:
1. Makalah Pdt. Widi Artanto.
06 September 2009
INFOK (INFO KASET)

Judul album : Confitemini Domino
Harga : Rp 20.000,00
Produksi : Kanisius Multimedia
www.kanisiusmedia.com
Jenis : Musik Instrumentalia Taize (versi glass harp)
Side A : 7 lagu
Side B : 7 lagu
Rekomendasi :
Komentar :

Judul album : Shang Zhu Zhi Yi (Jalan Tuhan)
Harga : Rp 25.000,00
Produksi : PT. Istora Adhiswara (Maranatha)
www.maranathaindonesia.com
Jenis : Instrumentalia Mandarin
Side A : 5 lagu
Side B : 6 lagu
Rekomendasi :
Nikmati suara instrumen Biola, Er Hu, dan Serulingnya yang khas.
Komentar :
04 September 2009
AYAT PENYEMBUHAN
Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Kel.15:26
firman-Nya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau."
Amsl.14:30.
Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.
Amsl.17a:22.
Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
Ayat-ayat di atas bukan bertujuan untuk memvonis atau menghakimi orang yang sedang mengalami sakit namun sebaliknya kami bagikan untuk pembaca sekalian. YMMR.
02 September 2009
Kebaktian Emeritasi Pdt. Bambang Subagya, S.Th.

Kebaktian emiritasi atas diri Pdt. Bambang Subagya, S.Th. (Pendeta Jemaat GKJ Ambarrukma) pada Senin (20/7) berlangsung meriah dan khidmat. Ratusan warga GKJ Ambarrukma tampak antusias mengikuti jalannya acara yang menandai akhir tugas-penuh-waktu pendeta mereka.
Pdt. Bambang Subagya tercatat mulai melaksanakan pelayanannya sebagai pendeta di GKJ Ambarrukma sejak ditahbiskan pada 15 Juli 1987. Memang, berbeda dengan masa jabatan penatua dan diaken, masa jabatan pendeta sebetulnya seumur hidup. Meskipun demikian, sesuai dengan Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ pelaksanaan tugas seorang pendeta secara formal-struktural dapat berakhir (emiritus) ketika pendeta memasuki usia 60 tahun. Dengan memasuki masa emiritusnya, maka seorang pendeta secara struktural sudah tidak harus melaksanakan tugas gerejawi sebagai tenaga penuh waktu.
Kebaktian emiritasi yang berlangsung di Gedung GKJ Ambarrukma Pepanthan Nologaten ini turut dihadiri oleh para pemuka agama dari Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB). Sejumlah pendeta, baik dari GKJ maupun gereja tetangga, juga turut datang. Saat menghaturkan doa syukur, mereka semua diundang maju oleh Pdt. Purwantoro Kurniawan, S.Th. untuk berdiri mengelilingi Pdt Bambang Subagya.
Dalam kesempatan pelayanan firman, Pdt. Bambang Subagya menyatakan rasa syukurnya. “Kula misungsungaken puji sokur konjuk dhumateng Gusti Yesus Kristus Ratuning Pasamuan, ingkang ngudaneni paladosan kula, ngantos dumugi wekdal emiritus kula mboten ngantos kewirangan.”
Pak Bagya, yang hari itu tepat berulang tahun ke-60, juga mengajak seluruh jemaat untuk menghayati kesaksian Rasul Paulus dalam Filipi 1:20–25. Dalam khotbahnya, pendeta yang telah melayani lebih dari 20 tahun ini mengambil tema renungan: “Yang kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa Kristus dimuliakan, baik oleh hidupku maupun kematianku.”
Bupati Sleman, Ibnu Subiyanto, dalam sambutan tertulisnya menyatakan bahwa menjadi emeritus bukan berarti sebagai akhir dari tugas dan pelayanan. Gelar emeritus hendaknya dimaknai sebagai kesempatan untuk semakin membuka mata hati akan penderitaan sesama, menebarkan cinta kepada semua orang, dan memupuk harapan di tengah keputusasaan. Dalam kesempatan itu, mewakili jajaran pemerintah daerah untuk menyampaikan sambutan adalah Camat Depok, Drs. Supardal.
Turut menyaksikan kebaktian emeritasi adalah Pendeta Nomulas Daryanto, M.Th. Mewakili Badan Pelaksana Sinode XXIV GKJ, ia secara khusus juga mengucapkan selamat kepada Pdt. Bambang Subagya, S.Th. atas emeritasinya.
Ucapan selamat datang pula dari Pembimbing Masyarakat Kristen Kanwil Propinsi DIY, Petrus Marija. Dalam kata sambutannya, Petrus Marija juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pdt. Bambang Subagya atas peran sertanya dalam membangun moralitas bangsa yang beradab selama aktif melayani sebagai pendeta definitif.
Dengan resminya Pdt. Bambang Subagya, S.Th. menjadi pendeta emeritus, berarti kini tongkat estafet pendeta-penuh-waktu diemban oleh Pdt. Purwantoro Kurniawan, S.Th.(*joko w)
14 Agustus 2009
Doa
Ketika aku kelelahan aku berkata, bergumam. “Mengapa aku harus berdoa setiap hari?” Sela. Lalu aku mendengar suara,… “Tuhan tidak pernah lelah membangunkanmu di pagi hari, Dia tak pernah lelah memberi bonus jantungmu bekerja, bahkan Dia tak pernah tertidur untuk sejenakpun!”
Masih aku bertanya. “Mengapa aku harus terus menerus untuk melakukan doa yang sama yang belum juga terkabulkan?” Lalu aku mendengar suara,... “Apa kamu sudah tidak memerlukan sarapan pagi, makan siang, dan makan malam setiap hari?” “Pikirku, pasti aku sedang bercanda! Atau aku sedang berpuasa! Tapi aku masih tidak mengerti bukankah suara ini hanya hukum-hukum duniawi saja!?!” Lagi aku mendengar suara,... “Baik, rupanya kamu sanggup menghitung bintang di langit atau jumlah pasir di laut?! Atau mungkin lebih mudah menghitung jumlah rambut di kepalamu?!” Aku terdiam. “Apakah penderitaanku ini adalah tuaian yang telah kutabur selama ini?” Allah itu baik, dan taman Eden itu disediakan-Nya untuk manusia. Tetapi apa yang dilakukan manusia adalah pelanggaran ketika ia memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Manusia bisa menyimpang tetapi Allah telah menyediakan kasih karunia melalui Yesus yang telah menebus dosa dan pelanggaran manusia. Ya, masih ada pengharapan akan kasih karunia. YMMR
Sleman, 17 Maret 2007
10 Agustus 2009
Pelajaran dari Tukang Kayu
Seorang tukang kayu yang tidak bersalah, yang juga anak dari ayah yang berprofesi sebagai tukang kayu, dikabarkan tewas secara mengenaskan di atas kayu. Sebelum tewas, korban (anak si tukang kayu) sempat disiksa secara tidak manusiawi, diejek, diludahi, ditelanjangi, dipukul, dianiaya, dan akhirnya diarak massa untuk dieksekusi. Meski korban sudah sangat lemah dan kehilangann banyak darah namun ia tampak tetap tabah. Bahkan sampai pada detik-detik kematiannya, korban tidak menyalahkan siapapun, sebaliknya ia malah memintakan pengampunan.
“Aku pikir pria macam apa ini yang berkuasa memohonkan pengampunan?!?”
Pria yang masih muda itu akhirnya dikenali bernama Yesus Kristus!
Sobat, tukang kayu itu ternyata sosok Tuhan yang mengambil rupa manusia untuk penebusan dosa kita. Kedatangan-Nya membawa misi Kasih Allah yang begitu besar dalam simbol kayu salib. Perhatikan gambaran sebatang kayu yang melintang datar, tak ubahnya simbol buruk atau negatif dalam matematika. Demikian juga sebuah kayu yang melintang tegak lurus, rasanya kuranglah sempurna dan berarti. Kedua kayu itu akan berarti baik atau positif bila menyatu dalam simbol salib. Menyitir pendapat orang, bahwa tanpa melalui Yesus kita tidak akan selamat, dan Yesus mau melibatkan kita untuk menyelamatkan umat-Nya. Amin.
Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
(Markus: 6:3)
Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?
(Matius: 13:55) YMMR
PASIR DI LAUT
Sudah lama saya merindukan melihat suasana pemandangan lautan. Senang sekali teman-teman kami persekutuan Kompra Bambu Tegalrejo mengajak Ibadah padang di pantai Krakal. Setelah menyanyi, bersekutu, bermain, dan juga makan-makan tentunya, tiba saatnya acara santai. Agaknya anak-anak remaja sudah tidak sabar ingin bermain di pantai. Ada yang mandi di dekat karang, mencari pong-pongan, berfoto ria, bermain pasir, dll deh.

Saya pun mengumpulkan beberapa cangkang siput yang indah-indah. Ternyata kami tidak sendiri. Ada pula para penduduk sana (mungkin) yang sibuk mencari rejeki juga. Terlihat mereka sibuk mencari rumput laut, hampir satu kantong plastik besar. “Ini tidak untuk dijual mas! Yang kita jual es rumput lautnya!” “Apa enak pak? Gimana sih cara masaknya?”, tanyaku penasaran. “Ya, rebus saja selama sejam atau sampai mendidih, dimakan mentah juga enak!” Temanku yang ikut mendengarkan pun membuktikannya. “Wah, rasanya asin!” Ya jelas dong tumbuhan laut, please deh!... Selain itu kami melihat juga orang memancing dan mencari terumbu karang mungkin!
Sampai saya teringat ayat ini, Kejadian 32:12 Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung." Aku mencoba mengambil segenggam pasir. Benar! Hanya segenggam saja ternyata menjadi masalah yang sulit untuk mengetahui berapa jumlahnya. Kupandangi tepi pantai Krakal. Wah, luas sekali. Belum di lautnya sendiri, sungguh tak sanggup aku menghitungnya. (tj).
foto ilustrasi oleh: tj diambil diparit sawah Sleman.
Ada Apa dibalik Pujian?
Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting,
pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
Mzm.150:5
Mungkin kecapi dan suling adalah alat musik paling purba sepanjang sejarah manusia. Kitab Kejadian yang ditulis Musa (sekitar 1445-1405 SM) mencatat bahwa adik Yabal adalah bapa dari semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling (Kej. 4:21). Pada zaman sekarang, tentu kita bahkan dapat menyebutkan lebih dari dua alat musik, baik kelompok yang dipetik, ditiup, dipukul, atau digesek.
Dapatkah Anda menyebutkan empat buah alat musik yang ada di gereja kita, Tanjungtirto?... Ya, benar! Ada organ atau “raja di antara semua alat musik” (Karl, 1979), drum, gitar akustik, dan yang tak kalah tenarnya yaitu, seperangat gamelan Jawa. Pertanyaan kedua adalah tahukah Anda mengenai kondisi ke-empat alat musik itu sekarang? Wah, mungkin Anda perlu berpikir dan mengamati, atau bertanya dahulu untuk bisa menjawabnya. Maaf, kalau mungkin kali ini Anda tak selancar menjawab pertannyaan pertama, he...he... Tetapi yang jelas bahwa, perkembangan dan keberadaan alat musik sekarang ini telah membawa pengaruh penting saat kita memuji kepada Tuhan.
Sebenarnya mengapa, bagaimana, kapan, dan di mana kita perlu memuji Tuhan? Sampai-sampai raja Daud sepertinya menjadi tokoh paling getol dan serius menyoal memuji. Disamping ada juga nabi Nehemia dengan paduan suaranya (Neh.12:31), nabi Yesaya, dan tokoh-tokoh dalam kitab PL lainnya. Lalu adakah Injil juga mengupas perihal puji-pujian? Jawabanya, Ya! Yesuspun ternyata melakukannya seperti dalam Matius 26:30, Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun.
Untuk itu marilah sedikit kita kupas kisah: “ada apa dibalik pujian” ini satu per satu!
Mengapa kita perlu memuji TUHAN?
Berikut tiga cuplikan alasan mengapa kita perlu memuji Tuhan? (Musik Daud, 1988: 91-92)
1. Tuhan sendiri yang memerintahkan.
Seperti tertulis dalam Mzm. 50:23, Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku... (Ref. 2 Taw. 29:25; Mzm. 40:4).
2. Ada kuasa dalam pujian kepada Tuhan, contohnya:
· Senjata mengalahkan pekerjaan Iblis.
Yesus berkata dalam Mat. 21:16 ...Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?" Ayat tadi terkait juga dalam Mzm.8:3, Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.
· Melepaskan belenggu Paulus dan Silas ketika di penjara.
Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. Kis.16:25-26
· Raja Yosafat menang atas musuh-musuhnya.
Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. 2 Taw. 20:22
Bagaimana cara memuji Tuhan? (Musik Daud, 1988: 93)
1. Dengan alat musik
Salah satu sarana yang bisa kita pakai untuk memuji Tuhan adalah alat musik. Di dalam 2 Sam. 6:5 dikisahkan, Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap. Raja Daud bahkan menyiapkan alat musik itu sendiri seperti tertulis dalam 1 Taw. 23:5, ...dan empat ribu orang menjadi pemuji TUHAN dengan alat-alat musik yang telah kubuat untuk melagukan puji-pujian," kata Daud. (Ref. Mzm.33:2-3; 71:22; 144:9; 150:3-5; Yes.38:20; Why.14:2)
2. Dengan menyanyi/bermazmur
Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Mzm.30:5 (Ref. Mzm. 27:6; 47:7; 66:2; 92:2; 95:2; 96:2; Ef.5:19; Kol.3:16; Why.5:7-10; 14:2-4).
3. Dengan Bersorak-sorai
Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN. Mzm.27:6 (Ref. Mzm. 32:11;35:27; 47:2; 66:1; 81:2; 95:2; 98:4; 100:2; 126:2; 132:9,16; Yos.6:10,16,20; 2 Sam.6:15)
4. Dengan Menari
Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Mzm. 149:3 (Ref. Kel.15:20; 2 Sam.6:14; Mzm. 150:4; 30:12; Pkh. 3:4; Yer.31:4; Mat.11:17; Luk.15:25)
5. Dengan Tertawa
Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Mzm.126:2
6. Dengan Bersyukur
Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Mzm. 100:4
7. Dengan Berdiri
Kemudian orang Lewi dari bani Kehat dan bani Korah bangkit berdiri untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan suara yang sangat nyaring 2 Taw.20:19. (Ref. 1 Taw.15:16; 2 Taw.29:26; Neh.8:6; Why 7:9-10).
8. Dengan Berlutut
...karena Salomo telah membuat sebuah mimbar tembaga yang panjangnya lima hasta, lebarnya lima hasta dan tingginya tiga hasta, yang ditaruhnya di halaman--;ia berdiri di atasnya lalu berlutut di hadapan segenap jemaah Israel dan menadahkan tangannya ke langit,sambil berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit dan di bumi; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; 2 Taw.6:13-14 (Ref. Mzm.95:6; Neh.8:6-7; Flp.2:10-11
9. Dengan bertepuk tangan
Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! Mzm.47-2 (Ref. Mzm. 98:8; Yes.55:12; 2 Raj. 11:12)
10. Dengan mengangkat tangan
Angkatlah tanganmu ke tempat kudus dan pujilah TUHAN! Mzm.134:2 (Ref.Mzm.63-5; 1 Tim.2:8)
11. Dengan cara non-musikal:
a. Memberi
Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan 1 Taw.16:29. (Ref. Mat.2:11)
b. Perbuatan baik
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Mat.5:16 (Ref.Ibr.13:15;Gal.6:2)
c. Berbuah-buah
Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." Yoh.15:8
Bilamana kita harus memuji Tuhan? (Musik Daud, 1988:92)
Pemazmur mengajarkan kepada kita untuk senantiasa memuji Tuhan. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela Mzm. 84:5. (Ref. Mzm.96:2; 34:2; 52:11; 70:5; 71:14; 84:5; Ef. 5: 18-20; Ibr. 13:15; 1 Taw. 16:23).
Di mana kita harus memuji Tuhan? (Musik Daud, 1988: 92)
1. Di tengah-tengah perhimpunan umat Tuhan.
Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah: Mzm. 22:23. (Ref. Mzm. 35:18; 149:1).
2. Di hadapan mereka yang belum beriman pada Yesus.
Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN. Mzm. 40:4 (Ref. Mzm. 96:1-3; Kis.16:25-34).
3. Di rumah
Biarlah orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur mereka! Mzm. 149:5
Jadi pengertian memuji dan memuliakan Tuhan ada dua, baik dengan cara-cara non-musikal maupun musikal. Firman Tuhan juga mengajarkan agar umat-Nya senantiasa bersyukur dan memuji-Nya (Ef. 5:19-20). Beruntung sekali jika warisan musik tradisional Jawa belum punah di tengah keberadaan musik modern. Buktinya musik gamelan masih tetap lestari di lingkungan GKJ. Berarti, masih akan ada suara gong, bende, kendang, tepukan tangan, tarian, dan nyanyian para penyanyi yang duduk timpuh dan bersila (KPK Lama 116:1; KPK BMGJ 16:1).
Bila ceracap terus berdenting dan berdentang, semoga ia takkan pernah berdebu atau menjadi usang... Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa (Yes. 61:11). *YMMR-07.
Diolah seperlunya dari:
Karl-Edmund Prier S.J. 1979. Menjadi Organis I. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.
Musik Daud. 1988. 200 Nyanyian Jemaat Pilihan. Surabaya: Gideon Offset Printing.
Kutipan Alkitab terambil dari:
J.F. Kasenda. 2000. Program Alkitab Versi 2.7. Jakarta.



















